Kita adalah manusia yang agung, umat pilihan yang luar biasa. Oleh karena itu, arahkanlah mata hati kita kepada Tuhan. Milikilah tekad yang kuat, kobarkan dalam hati kerinduan untuk memindahkan seluruh orientasi hati ini kepada Tuhan. Dan Allah akan membentuk landasan pacu dalam hidup kita.

Orang-orang yang hidupnya terus nyaman, yang selalu ingin senang dan bebas dari tekanan, tidak akan sanggup memindahkan hatinya kepada Tuhan. Bahkan ketika berada di ambang maut, mereka tetap tidak mampu melakukannya. Dalam hidup ini, ada banyak hal yang menjadi sumber kesenangan. Bagi seorang pendeta, pelayanan pun bisa menjadi kebahagiaan yang menipu—kesibukan pelayanan, harapan akan prestasi, baik di sekolah teologi maupun di lingkungan gereja, bisa menjadi objek kebahagiaan yang mengalihkan hati dari Tuhan.

Tanpa disadari, kita mulai menyimpang. Apalagi jika seseorang gila hormat, ingin terkenal, ingin dihargai. Melihat orang lain dihargai, ia pun ingin dihargai. Lebih buruk lagi, jika keinginan itu ditempuh dengan cara-cara yang tidak patut. Bisa jadi, tanpa kita sadari, kita telah tersesat dalam selera dan gairah dunia. Tidak ada lagi kerinduan untuk berjumpa dengan Tuhan. Kecuali jika kematian tiba—barulah mau tak mau kita harus bertemu dengan Tuhan. Namun jika di hati kita tidak ada kerinduan untuk bertemu Tuhan, maka pada akhirnya kita memang tidak akan bertemu dengan-Nya, sebab hal itu mencerminkan bahwa kita tidak layak berjumpa dengan Tuhan.

Memang, setiap orang memiliki persoalan, menghadapi banyak masalah, dan bergumul dalam kehidupan. Namun, jangan sampai kita kehilangan pengharapan yang seharusnya kita taruh pada perjumpaan dengan Tuhan. Banyak orang tidak sanggup merindukan Tuhan karena selera jiwa mereka telah rusak. Mereka telah diasuh oleh dunia untuk menjadi mempelai kuasa kegelapan . Mereka tidak tampil menyeramkan, justru sebaliknya: mereka hadir dalam bentuk kendaraan mewah, arloji bertatahkan berlian, tas bermerek, kursi jabatan dan kehormatan. Banyak orang “menikah” dengan dunia dan menjadi mempelai dunia .

Itulah sebabnya firman Tuhan berkata, “Jangan kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu.” Kalaupun tampaknya seseorang mengasihi Tuhan, itu sering kali bersifat situasional. Kemunafikan sesaat menciptakan “frekuensi semu,” seakan-akan dirinya terhubung dengan Tuhan—padahal kenyataannya tidak.

Ayat selanjutnya menyatakan: “Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging, keinginan mata, serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.” Inilah hal-hal yang masih melekat pada jiwa kita dan harus segera ditanggalkan. Kita harus mengalihkan hati kita kepada pengharapan akan kebahagiaan sejati, yaitu perjumpaan dengan Tuhan.

Jangan main-main dengan kekekalan. Kita harus sungguh-sungguh menyadari bahwa sebagai manusia, kita hidup dalam risiko tinggi. Tetapi, bersyukurlah karena kita telah dipilih Tuhan untuk menjadi umat pilihan. Ini adalah tanggung jawab besar, sebab kita sedang dipersiapkan untuk menjadi mempelai Kristus . Dan untuk menjadi mempelai Kristus , kita harus menjadi “perawan suci” (2 Kor. 11:2–4). Istilah “perawan” di sini mengacu pada hati yang tidak ternoda oleh dosa dan tidak dicemari oleh cinta dunia. Hati yang sepenuhnya melekat pada Tuhan.

Ingatlah, semua yang kita miliki akan kita tinggalkan. Namun, cinta dunia yang telah mengikat hati kita bisa menjadi jerat yang menyesatkan, sehingga kita tidak benar-benar merindukan Tuhan. Kita menjadi sibuk dengan berbagai masalah, dan masalah-masalah itu berubah menjadi berhala yang mencuri pikiran dan perasaan kita. Akibatnya, kita tidak mampu membulatkan cinta kita kepada Tuhan.

Berubahlah! Taruhlah seluruh pengharapan dan kebahagiaan kita hanya kepada Tuhan. Jaga hidupmu, jaga kekudusanmu, dan bergaullah erat dengan Tuhan agar kita mengerti pikiran dan perasaan-Nya. Kita tidak bisa tidak—kita harus menjadi militan dalam menghadapi dunia yang jahat dan gelap ini.