Maka, jika kita tidak sungguh-sungguh, kita akan terbawa oleh kesibukan hidup dalam mengurus banyak hal, sehingga kita tidak sempat mengurus manusia batiniah kita. Bila hal ini terjadi, dapat dipastikan kita akan terhilang. Oleh sebab itu, kita harus berani mengambil keputusan, yakni menaruh seluruh pengharapan kebahagiaan kita hanya pada perjumpaan dengan Tuhan. Perhatikanlah orang-orang Kristen abad pertama. Ketika mereka dilanda aniaya, kehilangan harta, keluarga, bahkan nyawa, mereka menaruh pengharapannya pada Tuhan—pada perjumpaan dengan Tuhan.

Kita memiliki kesempatan untuk meraih dunia dan menikmati segala kenikmatannya. Namun justru karena itu, kita dipanggil untuk meninggalkan dunia yang bisa kita raih dan nikmati, demi menunjukkan kesetiaan kita kepada Tuhan. Mari kita menjadi komunitas yang dicintai Tuhan, komunitas yang memesona hati-Nya. Setiap kali kita merindukan Tuhan, kita memancarkan keharuman rohani, dan Bapa di surga mencium keharuman itu. Tuhan Yesus pun mencium keharuman itu. Hal ini dapat terjadi apabila kita mampu melepaskan segala sesuatu yang kita miliki, dan hidup dalam kesadaran bahwa kita sebenarnya tidak memiliki apa-apa. Apa pun yang ada pada kita hari ini adalah milik Tuhan.

Hidup ini sangat berbahaya dan tragis. Oleh karena itu, marilah kita belajar untuk menaruh pengharapan kebahagiaan kita hanya pada perjumpaan dengan Tuhan. Tidak ada kebahagiaan yang sejati selain berjumpa dengan Tuhan.

Mungkin ada di antara kita yang berkata, “Mengapa aku berada dalam keadaan seperti ini? Ekonomiku sulit, rumah tanggaku kacau, anak-anakku bermasalah, orang tuaku sakit…” Namun ternyata semua itu adalah landasan pacu yang Tuhan siapkan. Kegagalan-kegagalan masa lalu adalah cara Tuhan mempersiapkan kita agar kita memiliki landasan pacu yang kokoh untuk terbang. Bagi mereka yang telah menjalani perjalanan rohani bersama Tuhan, mereka tahu bahwa melalui keadaan seperti itulah mereka dipaksa untuk memandang Tuhan. Sebaliknya, bila hidup kita penuh kelimpahan dan tanpa masalah, sering kali pikiran kita hanya tertuju kepada kenikmatan dunia.

Adapun ciri utama dari orang yang menaruh kebahagiaannya pada Tuhan adalah: ia selalu menyediakan waktu untuk bertemu dengan Tuhan . Ia tidak tergesa-gesa, tidak bisa cepat-cepat; kalau bisa, ia ingin berlama-lama di hadirat-Nya. Ia mampu “menembus awan”—mengalami perjumpaan yang nyata dengan Tuhan. Tidak mungkin seorang Kristen nantinya asing terhadap Tuhan. Tidak mungkin Tuhan akan berkata, “Siapa kamu?” atau sebaliknya, kita merasa asing terhadap Tuhan. Meskipun kita belum pernah melihat Tuhan dengan mata jasmani, tetapi kita telah merasakan hadirat-Nya di dalam roh, dan kita tahu: itu Tuhan. Sebab hanya Tuhan yang memiliki hadirat seperti itu—hadirat yang telah kita nikmati setiap hari. Dan perjumpaan itu sungguh dapat terjadi. Kita bisa terbang tinggi, melintasi segala awan dunia, ketika hidup kita bersih dan tidak terikat oleh percintaan dunia.

Jadi, bila kita tidak ingin berdoa, tidak ingin mengalami perjumpaan dengan Tuhan Yesus, bila kita merasa asing terhadap doa, maka sesungguhnya kita tidak mungkin akan bertemu Tuhan. Kita sedang menunjukkan gejala sebagai orang yang akan mengkhianati-Nya. Kita masih bisa berubah oleh pertolongan Roh Kudus, tapi tanpa tekad yang kuat, perubahan tidak akan pernah terjadi. Berdoalah: “Tuhan, aku mau menaruh kebahagiaanku pada-Mu. Hari ini aku menyadari bahwa selama ini aku tidak merasa membutuhkan perjumpaan dengan-Mu. Aku tidak punya kerinduan untuk bertemu dengan-Mu. Bahkan aku takut mati. Tapi sekarang aku mau berkomitmen: aku ingin menjadikan perjumpaan dengan-Mu sebagai satu-satunya kebahagiaanku.”

Itu sebabnya, bukan tanpa alasan Rasul Paulus dalam 2 Korintus 11:3 menyatakan: “Aku takut kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaanmu yang sejati kepada Kristus, seperti Hawa diperdaya oleh ular.” Sebab banyak hal yang kita konsumsi—baik secara pikiran, hiburan, atau gaya hidup—telah meracuni selera jiwa kita. Hal-hal itu telah merusak orientasi hati kita. Jangan sombong. Berubahlah. Kita harus memaksa diri untuk berubah. Mari kita mempersiapkan diri—bersama keluarga—untuk bertemu dengan Tuhan.