Bukan karena putus asa, bukan pula karena kegagalan dalam meraih apa yang bisa diraih oleh orang lain di bumi ini, tetapi kita harus berani menaruh seluruh pengharapan kita pada pertemuan dengan Tuhan Yesus. Jika kita dapat mencapai tingkat ini, barulah kita sungguh-sungguh menjadi kekasih Tuhan—baru layak disebut sebagai mempelai Kristus. Hanya sedikit orang yang sampai pada level ini. Bertahun-tahun kita bergumul, dan rasanya tidak kunjung mencapai titik tersebut. Bahkan kini pun, kita tidak mengatakan bahwa kita telah mencapainya dengan sempurna, tetapi kita mulai bisa merasakan betapa merdekanya hidup seseorang yang menaruh seluruh pengharapan dan kebahagiaannya pada perjumpaan dengan Tuhan. Tidak ada yang lebih membahagiakan daripada hal ini.
Bukan karena kita menyerah atau kehilangan semangat hidup, tetapi karena memang, selama 70 hingga 80 tahun kehidupan di dunia ini, tujuan utama kita adalah menemukan Sang Kekasih Abadi—dan Kekasih Abadi itu adalah Tuhan Yesus. Maka ketika Alkitab berbicara tentang pesta perjamuan Anak Domba, itu bukan perjamuan pernikahan dalam pengertian umum sebagaimana dipahami manusia, melainkan perjumpaan antara Anak Tunggal Bapa, Tuhan Yesus, dengan kita, orang-orang percaya. Dan inilah yang diinginkan Bapa di surga: mempertemukan Yang Sulung dari antara banyak saudara dengan kita. Ini bukan sesuatu yang mustahil untuk kita capai.
Rasul Paulus berkata dalam Filipi 1:23, “Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus,” yang berarti mengalami perjumpaan dengan Kristus. “Itu memang jauh lebih baik,” jauh lebih baik bagi Paulus. “Tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu,” karena tugasnya belum selesai. Maka ia harus tetap tinggal di dunia untuk menunaikan tugas tersebut. Oleh karena itu, di ayat 21 Paulus menyatakan, “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.” Kita pun harus berani menaruh pengharapan kebahagiaan kita pada perjumpaan dengan Tuhan.
Menjadi umat pilihan sejatinya sama artinya dengan menjadi orang yang dipersiapkan untuk menjadi mempelai Kristus. Tidak semua orang menerima panggilan istimewa ini—dan tidak banyak yang memilikinya. Kita adalah orang-orang yang dipilih. Oleh sebab itu, seharusnya seluruh fokus hidup kita tertuju kepada persiapan untuk perjumpaan dengan Kristus, Tuhan kita. Maka kita harus mampu mengukur sejauh mana kita memiliki kesetiaan kepada Kristus, yakni dengan melihat seberapa dalam kerinduan kita akan perjumpaan dengan Tuhan. Apakah hal itu benar-benar merupakan sesuatu yang membahagiakan kita, atau justru bukan sesuatu yang kita pandang penting?
Dari situ pula kita dapat mengukur sejauh mana kita mencintai Tuhan. Sebab, jika kita sungguh mencintai Tuhan, pasti kita akan merindukan perjumpaan dengan-Nya. Namun, betapa sulitnya mencapai tingkat tersebut. Jika kita jujur, kita harus mengakui bahwa dalam banyak hal, Tuhan seolah “memaksa” kita untuk sampai ke level itu. Tapi untuk benar-benar menjadi pribadi yang merindukan perjumpaan dengan Tuhan secara tulus dan mendalam, belum semua dari kita sampai ke sana. Bersyukurlah jika hari ini kita telah mencapai tahap ini—sebuah level yang terbentuk dari proses panjang, penuh penderitaan, dan pukulan menyakitkan. Banyak luka, banyak air mata. Namun, justru melalui semua itu, Tuhan mengangkat dan mengeskalasi kita dengan berbagai peristiwa yang Ia izinkan terjadi.
Jadi, jika kita tidak “dipanas” dan “dibakar” Tuhan dalam derajat panas tertentu, kita belum bisa “terbang .” Tuhan menciptakan landasan pacu dari berbagai persoalan hidup yang menyakitkan, mengecewakan, dan pahit—agar kita bisa terbang tinggi. Sebab tanpa landasan pacu , kita akan merasa betah di bumi ini dan menjadikan dunia sebagai rumah permanen kita. Namun hal ini hanya terjadi atas mereka yang sungguh-sungguh memiliki komitmen untuk merdeka dari ikatan dunia.