Dalam perikop tentang anak yang hilang, dikatakan bahwa: “Beberapa hari kemudian, anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh.” Ada pesan di balik kalimat “negeri yang jauh.” Pesan lain terdapat dalam kalimat “di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya.” Satu hal yang tidak dapat dibantah adalah kenyataan bahwa si bungsu tidak betah tinggal di rumah; ia tidak nyaman dalam kebersamaan dengan ayahnya. Oleh karena itu, ia meminta harta kekayaannya tanpa mempertimbangkan perasaan ayahnya. Ayahnya pasti mengetahui, dan juga dapat memperkirakan bahwa anak ini bisa celaka—atau bahkan pasti celaka—dengan cara berpikir, sikap, keputusan, dan pilihannya itu.
Namun, dalam kisah ini, sang ayah—yang sebenarnya merupakan simbol, gambaran secara figuratif atau kiasan dari Allah—tidak mencoba mencegah atau menghalangi kepergiannya. Tentu, si anak merasa dirinya baik-baik saja, padahal kenyataannya sangat mengerikan. Tuhan memiliki tatanan, dan Ia konsisten terhadap tatanan tersebut, yakni memberikan kehendak bebas kepada setiap individu. Apakah seseorang merasa membutuhkan Tuhan dan mau tetap melekat kepada-Nya, atau memilih jalan untuk pergi ke negeri yang jauh, itu merupakan keputusan pribadi. Anak itu benar-benar tidak berada di sekitar kota atau negeri tempat ayahnya tinggal. Ia sungguh-sungguh ingin bebas—bebas dari kontrol dan belenggu orang tuanya; ia menginginkan kemerdekaan menurut konsepnya sendiri.
Namun sang ayah tidak berupaya untuk menghalanginya. Ini menggambarkan bahwa Tuhan konsisten terhadap tatanan yang telah ditetapkan-Nya. Ia memberikan kehendak bebas, sebagaimana dalam peristiwa Adam dan Hawa yang mendekati pohon pengetahuan tentang yang baik dan jahat di tengah taman. Tuhan tidak menghalangi, bahkan dalam dialog antara Adam dan Hawa—yang diwakili Hawa dengan Iblis yang dipersonifikasikan oleh ular—Allah tidak menghalangi, tidak menginterupsi, dan tidak memotong. Bukan tidak mungkin suatu hari nanti seseorang akan meratap dan berkata, “Mengapa Engkau tidak mencegah aku, Tuhan?” Tuhan pasti akan menjawab, “Aku sudah memberi petunjuk dan melarang engkau.”
Masalahnya adalah: apakah hati kita condong kepada Tuhan atau tidak? Tuhan tidak memaksa. Tuhan menginginkan relasi kasih dengan mereka yang mau membuka diri untuk bercinta dengan-Nya. Namun, jika kita menolak, Tuhan tidak akan memaksa. Dan hal ini sungguh mengerikan, Saudaraku. Banyak orang merasa mereka baik-baik saja, padahal mereka sebenarnya berada dalam bahaya besar. Si bungsu tidak betah di rumah karena ia tidak memiliki pertalian batin dengan ayahnya. Itulah masalahnya. Pertanyaan bagi kita: apakah kita berusaha membangun jembatan hubungan dengan Tuhan setiap hari? Apakah kita sungguh-sungguh mencari Tuhan dan membangun koneksi dengan-Nya?
Ketika kita berada dalam kondisi terjepit, rasa butuh kita terhadap Tuhan sangat kuat. Namun, apakah rasa butuh itu konstan saat kita tidak berada dalam bahaya atau tidak dalam kondisi kritis? Seumpama orang yang sedang terbang, kita ingin terbang setinggi-tingginya supaya Tuhan memberkati kita dan membebaskan kita dari masalah. Tetapi, apakah dalam doa kita di waktu-waktu lain kita juga terbang setinggi-tingginya? Jika kita memiliki sambungan hati dengan Tuhan, kita akan memiliki konsistensi. Hubungan itu akan akrab dan intim, tidak berubah dalam kondisi apa pun, karena memang telah terjalin sambungan hati. Berbeda halnya dengan orang yang tidak memiliki sambungan hati: ketika krisis datang, mereka berteriak, “TUHAN!” dengan lantang, namun bahkan mereka pun tidak yakin apakah Tuhan mendengarnya atau tidak.
Jadi, pada dasarnya, anak ini tidak betah di rumah karena tidak ada yang mengikat hatinya di sana. Ia menginginkan suasana lain, berharap bahwa dalam suasana itu ia akan menemukan kebahagiaan. Godaan semacam ini adalah godaan yang dihadapi oleh setiap orang Kristen. Puji Tuhan jika kita telah jauh dari godaan ini. Maka, kita harus senantiasa tinggal dalam hadirat-Nya. Namun, banyak orang yang tanpa disadari telah ditarik oleh Iblis untuk merasa tidak betah di rumahnya sendiri.