Sejatinya, orang yang belum berani sungguh-sungguh menaruh seluruh pengharapan kebahagiaannya kepada Tuhan adalah orang yang belum sepenuhnya memercayai bahwa Tuhan adalah jawaban atas seluruh kebutuhannya. Dalam Perjanjian Lama, terdapat tokoh-tokoh yang telah mencapai tingkat relasi sebagai kekasih Tuhan. Misalnya, Abraham. Ia rela kehilangan anak kesayangannya demi tidak melukai hati Allah Bapa Elohim Yahweh. Pernyataan-pernyataan pemazmur dalam Mazmur 73 juga menunjukkan keintimannya dengan Allah: “Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya.” Namun, banyak orang belum berani memercayai hal ini.

Pengalaman pribadi yang dialami Daud membuatnya menulis: “Daud menguatkan percayanya kepada Tuhan.” Biarlah kita pun menguatkan kepercayaan kita kepada-Nya, menjadikan Dia sebagai satu-satunya sumber kebahagiaan. Sebab Ia lebih dari napas dan darah dalam tubuh kita. Kita membutuhkan-Nya, dan biarlah Dia memegang tangan kita serta melingkupi kita senantiasa. Meskipun hal ini tidak dapat dilihat secara jelas oleh orang lain, tetap akan tampak. Apabila seseorang sungguh-sungguh menaruh pengharapan kebahagiaannya kepada Tuhan, tanda-tandanya akan terlihat dengan jelas. Pasti akan tampak melalui kesucian hidupnya, kesediaannya untuk tidak terikat oleh kesenangan duniawi, kerelaan berkorban tanpa batas, dan sebagainya.

Oleh karena itu, kita harus bergumul—bagaimana kita merdeka dari keterikatan pada kekayaan, harga diri, dan perasaan kurang dihargai—karena semua itu merupakan racun bagi jiwa yang merusak kehidupan kita. Kita harus memiliki hubungan dan sambungan batin dengan Allah Bapa. Ini adalah sesuatu yang benar-benar riil, yang harus kita alami dan rasakan. Dari relasi ini, kita akan terdorong untuk mencari wajah Tuhan, mendambakan hadirat-Nya. Sejatinya, sebagian besar orang Kristen terhilang—ini bukanlah sebuah penghakiman, tetapi fakta—jika kita menilik standar kebenaran Alkitab. Banyak orang Kristen, bahkan mereka yang pergi ke gereja dan melayani Tuhan, masih mengharapkan kebahagiaan dari dunia ini.

Namun, bukan berarti kita tidak dapat menikmati hidup. Kita tetap dapat menikmati hidup, tetapi tanpa terikat kepada apa pun yang kita nikmati itu. Maka, kita harus terus mencari wajah Tuhan, membangun sambungan hati dengan-Nya. Bagaimana kita dapat melompat setinggi-tingginya, terbang setinggi-tingginya, berada dalam hadirat Tuhan dan menyambung batin hati kita dengan Allah semesta alam.

Mazmur 84 menyatakan: “Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Gitit. Mazmur Bani Korah. Betapa disenangi tempat kediaman-Mu, ya Tuhan semesta alam. Jiwaku hancur karena merindukan pelataran-pelataran Tuhan. Hatiku dan dagingku bersorak-sorai kepada Allah yang hidup.”

Kita tentu menyenangi tempat kediaman Tuhan, bukan karena lokasinya, melainkan karena Tuhan yang hadir di tempat itu. Bahkan pelataran-Nya saja dirindukan—apalagi Pemilik pelataran itu, Pemilik rumah itu. Jika kita sungguh-sungguh merindukan Tuhan, maka kita juga akan mampu mengabaikan rasa jenuh saat berlutut dalam doa, atau rasa lapar saat berpuasa. Jangan sampai kita seperti si Bungsu yang tidak memiliki ikatan hati dengan sang ayah, sehingga tidak merasa betah di rumah dan mencari kesenangan di luar.

Sesungguhnya, si Sulung pun ternyata tidak memiliki perasaan yang sejalan dengan hati sang ayah. Walaupun mungkin dalam hal ini ia tampak lebih baik daripada si Bungsu, tetap saja ia tidak memenuhi standar. Sebab ketika si Bungsu pulang, si Sulung tidak senang. Ia menunjukkan perasaannya, tidak mau masuk ke dalam rumah—padahal rumah sedang hingar-bingar dalam suasana euforia pesta. Ia memilih berada di luar, memprotes, bahkan sampai sang ayah sendiri yang harus keluar menemuinya. Ini sebenarnya merupakan tindakan yang mempermalukan sang ayah. Bahkan si Sulung marah.