Terus terang, kadang-kadang kita merasa pesimis melihat diri kita sendiri yang sulit untuk berubah. Namun, kita tidak boleh putus asa. Tuhan menghajar kita melalui banyak pukulan—yang kadang-kadang kita tidak mengerti—tetapi sebenarnya, Tuhan sedang memroses kita untuk menjadi sempurna. Maka, sebaik apa pun kita melalui proses budi pekerti atau pendidikan etika, itu tidak akan menjadi indah di mata Allah sampai kita benar-benar menjadi buatan tangan Tuhan. Ironis apabila ada gereja atau sekolah tinggi teologi yang merasa mampu mendidik orang menjadi seorang akademisi hebat, padahal secara tidak sadar mereka telah menarik proses pekerjaan Roh Kudus dan menggantikannya dengan proses pendidikan semata.

Bayangkan jika orang-orang seperti ini menjadi pelayan jemaat, atau bahkan pendeta. Mereka tidak mengerti proses pembentukan oleh Roh Kudus. Dan sering kali, Roh Kudus tidak dilibatkan sama sekali. Ketika mendengar kata “Roh Kudus”, orang langsung mengaitkannya dengan Pentakosta, Karismatik, atau hal-hal yang dianggap “ngeroh” . Padahal, proses untuk menjadi manusia baru—ciptaan baru—tidak dapat dilepaskan dari karya Roh Kudus. Hanya Roh Kudus yang sanggup berbicara dan menunjukkan keadaan terdalam dalam diri kita. Kita harus menanggalkan satu per satu bagian dari manusia lama, sampai kita menjadi pribadi dengan profil yang murni dan bersih di hadapan Allah. Namun, proses ini hanya berlaku bagi mereka yang benar-benar mengasihi Tuhan.

Meskipun kita belum sempurna, kita bisa mengasihi Tuhan. Kita bisa menggelorakan hati, mencintai Tuhan, dan sungguh-sungguh ingin menyenangkan Dia. Jika gelora hati ini ada, Roh Kudus akan menggarap kita. Harus ada hasrat batin yang kuat untuk mencintai Dia. Apabila kemurahan hati kita berasal dari karya Roh Kudus, maka ketika orang lain tidak berterima kasih, tidak menghargai, bahkan meremehkan, itu tidak akan menjadi masalah. Sebab, saat kita berbuat baik, kita sudah lebih dulu menikmati sukacita—bahkan sukacita yang berasal dari Tuhan. Dan bila kita sudah bisa merasakan sukacita Tuhan, kita akan tahu saat kita menyenangkan hati-Nya. Tuhan akan memberikan semacam sinyal batin: “Aku senang.” Dan kita bisa ikut merasakan sukacita-Nya.

Pendidikan moral yang baik memang bisa diajarkan di sekolah. Tetapi itu tidak akan membentuk seseorang menjadi manusia Allah seperti yang dikehendaki-Nya. Sebab, yang dikehendaki Tuhan adalah profil manusia yang segambar dan serupa dengan Dia, sesuai dengan rancangan semula. Dunia pun mengajarkan untuk tidak melawan musuh dan untuk mengalah. Tetapi ketika hal itu lahir dari Roh Kudus, hasilnya akan berbeda. Kita tidak akan bisa memahaminya, sebelum kita mengalami sendiri proses itu secara nyata.

Jangan takut—Allah itu hidup. Jangan sampai kita meninggal dunia, ternyata masih menyimpan wajah batin yang bukan berasal dari Allah. Sebab, kecantikan rohani hanya dapat dikerjakan oleh Roh Kudus. Maka, ketika kita mendidik anak-anak, jangan hanya mengandalkan disiplin dan sistem. Yang paling utama adalah roh —sampai anak-anak itu benar-benar dijamah oleh Roh Kudus. Jika mereka berubah, itu bukan karena sistem pendidikan atau disiplin asrama, melainkan karena Roh Kudus yang telah menyentuh mereka. Setiap anak perlu mengalami perjumpaan pribadi dengan Allah, agar mengalami proses penanggalan manusia lama. Dengan firman, doa, dan peristiwa-peristiwa hidup yang Tuhan izinkan, kita harus peka dan memperhatikan: bagian mana dalam hidup kita yang sedang digarap oleh Tuhan.

Kita tahu, gereja mula-mula mengalami aniaya yang sangat berat. Mengapa? Karena Tuhan ingin memisahkan gereja dari dunia, juga dari Yudaisme atau agama Yahudi. Petrus masuk penjara. Yakobus dipenggal kepalanya. Di luar wilayah Yudea, orang-orang Kristen dianiaya, dipisahkan dari dunia. Demikian pula kita. Persoalan-persoalan berat yang Tuhan izinkan dalam hidup ini berfungsi memisahkan kita dari dunia. Karena itu, matikanlah manusia lama kita, dan hiduplah dalam kehidupan baru di dalam Tuhan. Tuhan membela kita—bukan dengan cara membuat pasangan hidup kita mati atau jatuh sakit. Mungkin mereka tetap sehat dan kuat. Namun justru lewat semua itu, Tuhan sedang bekerja agar kita berubah. Sadari keadaan kita. Jangan lupa untuk berdoa dan meminta petunjuk Tuhan: bagian mana dalam hidup kita yang harus diubahkan oleh-Nya.