Ada doktrin yang mengatakan bahwa Tuhan menentukan mutlak segala sesuatu. Dalam hal ini Tuhan digambarkan sebagai pembuat skenario dari segala hal, termasuk bencana dan kejahatan. Mereka berkata—sebagai pembelannya—bahwa itu adalah kebijaksanaan Tuhan, itulah keadilan-Nya dan keadilan Tuhan itu di luar pengertian kita. Perlu kita ingat bahwa hukum-hukum yang Tuhan berikan adalah cermin dari pikiran, perasaan, dan kesucian Tuhan. Jadi mestinya kita bisa membaca, meraba kesucian Tuhan karena kita adalah makhluk yang diciptakan segambar dengan Dia dan diberi kemampuan moral seperti Tuhan. Jadi, jangan menggambarkan Tuhan sebagai pembuat skenario dari segala sesuatu—termasuk bencana dan kejahatan—dan neraka abadi bagi yang ditentukan untuk binasa.
Kalau manusia berada pada posisi ditentukan mutlak dan Tuhan juga memang demikian adanya, maka tentu manusia tidak perlu bertanggung jawab atas apa yang bukan disebabkan olehnya. Adalah tidak adil kalau manusia harus bertanggung jawab atas apa yang tidak disebabkannya. Pandangan ini bisa mengarah seakan-akan Tuhan terlibat dalam semua kejadian dan mengerjakan semuanya, termasuk kejahatan. Kita percaya adanya takdir mati, tapi ada takdir hidup. Tetapi tidak mungkin segala sesuatu Tuhan yang menetapkan. Pasti ada bagian dari manusia untuk mengembangkan diri dan bertanggung jawab atas hidupnya.
Tuhan Yesus mengatakan, “Hal duduk di sebelah kanan-kiri-Ku, Bapa yang menentukan.” Hal itu tergantung dari seberapa masing-masing orang dapat dipercayai atas kepercayaan yang diberikan Tuhan. Dalam Matius 22:1-14, dijabarkan tentang perumpamaan yang dipaparkan Tuhan Yesus. Dari perumpamaan itu sulit mengatakan bahwa respons manusia dalam panggilan untuk menjadi umat pilihan tidak dibutuhkan. Respons tetap dibutuhkan. Perumpamaan dalam teks ini menunjukkan bahwa respons manusia memiliki peran yang sangat penting untuk menjadi “yang terpilih.” Menjadi manusia pilihan tidak tergantung pada kedaulatan Tuhan semata-mata, tetapi juga pilihan manusia itu.
Perhatikan, ayat 1 mengatakan, “banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.” Artinya, banyak yang mendengar Injil, tetapi tidak semua meresponinya dengan benar. Tanpa respons, maka Injil hanya menjadi berita kosong yang tidak berarti bagi dia. Injil atau perkataan Tuhan itulah yang akan menghakimi orang itu, Yohanes 12:48-49, “Barangsiapa menolak Aku, dan tidak menerima perkataan-Ku, ia sudah ada hakimnya, yaitu firman yang telah Kukatakan, itulah yang akan menjadi hakimnya pada akhir zaman. Sebab Aku berkata-kata bukan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang mengutus Aku, Dialah yang memerintahkan Aku untuk mengatakan apa yang harus Aku katakan dan Aku sampaikan.”
Jadi, kalau orang Kristen tidak sungguh-sungguh mau belajar Injil dan merespons Injil dengan benar, lalu tidak menjadi manusia istimewa, jangan menyalahkan Tuhan. Jangan berkata, “Saya tidak menjadi umat pilihan. Saya bukan manusia pilihan. Saya manusia sampah yang tidak berarti karena Tuhan menentukan saya demikian.” Ingat, Injil adalah kuasa Allah yang menyelamatkan, dan keselamatan adalah usaha Tuhan mengembalikan manusia kepada original design . Tanpa respons, maka Injil hanya menjadi berita kosong, ingat ini. Perkataan Tuhan itulah yang menghakimi manusia. Jadi, kita tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. Kita harus menyalahkan diri sendiri.
Seseorang mau menerima Tuhan Yesus, tetapi tidak menerima perkataan-Nya, tidak bisa. Justru penerimaan kepada Tuhan Yesus ditunjukkan dengan menerima perkataan-Nya. Menerima perkataan Tuhan Yesus berarti mau belajar mengerti dan melakukannya. Mengerti dan melakukan perkataan Tuhan akan membuat seseorang menjadi manusia unggul dan istimewa . Inilah manusia yang terpilih. Orang yang tidak mengerti Injil, kualitas hidupnya pasti rendah dan kecerdasan emosinya rendah. Namun orang yang mengerti Injil, maka kecerdasan emosinya berbeda dan cara mengatur hidupnya juga berbeda.
Dalam Matius 22:1-14, Tuhan digambarkan sebagai seorang raja yang mengadakan pesta, mengundang tamu-tamu istimewa untuk menikmati jamuannya, tetapi tamu-tamu istimewa yang diundangnya tidak datang. Kemudian raja itu memerintahkan untuk mengundang siapa saja yang bisa dijumpai, maka banyaklah tamu-tamu undangan dalam pestanya. Tetapi ketika raja itu menjumpai seorang yang tidak mengenakan pakaian pesta, raja itu mengusir tamu tersebut dan menghukumnya. Perumpamaan ini jelas, maksudnya Tuhan memanggil orang-orang untuk menjadi manusia pilihan-Nya. Tetapi apakah orang-orang yang dipanggil itu menjadi manusia pilihan? Banyak yang dipanggil, sedikit yang terpilih. Jadi, sulit untuk mengatakan bahwa respons manusia tidak berarti.