Tuhan berfirman, “Jangan munafik!” Namun bukan berarti lebih baik kita tidak ke gereja daripada munafik, menambah dosa, dan melukai hati Tuhan. Kita memilih untuk tetap ke gereja, tapi mengubah sikap hati dan sikap hidup. Kemunafikan adalah bahasa manusia, bahasa diplomasi, keramahtamahan yang dibuat-buat atau keramahtamahan yang berlebihan. Dan manusia pada umumnya sudah terbiasa munafik, diplomasi dan keramahtamahan yang dibuat-buat. Apalagi ketika berada di gereja. Maka yang harus kita ubah adalah hati, tidak perlu diplomasi, tidak perlu keramahtamahan yang dibuat-buat. Coba kalau kita jujur, lagu rohani yang kita nyanyikan, apakah sungguh kita lakukan? Apakah sungguh sekualitas itu?

Kita mengatakan, “Ajarku menjaga hati,” benarkah kita menjaga hati di hadapan Tuhan lebih dari menjaga nama baik, menjaga harta dan martabat? Jangan karena kita masih gagal untuk menjaga hati di hadapan Tuhan, lalu kita tidak nyanyi lagu itu lagi. Sebaliknya, berjuanglah untuk mengubah sikap hati, sikap batin dan pola hidup kita setiap hari. Kita menjembatani apa yang kita ikrarkan, kita ucapkan kepada Tuhan—baik melalui doa maupun lagu— dengan mengusahakan untuk mengubah cara berpikir dan cara hidup kita setiap hari. Roh Kudus pasti menolong kita. Sebab kita tidak akan membawa apa pun dan siapa pun waktu kita meninggal dunia. Kita hanya membawa Tuhan, jika kita bersekutu dengan Dia secara benar.

Tidak berlebihan kalau kita mengatakan, “Tuhan, Engkau satu-satunya kesibukanku, Engkau satu-satunya kepentinganku, Engkau satu-satunya tujuan hidupku, Engkau satu-satunya kebahagiaanku.” Mungkin ada yang bertanya, “Bagaimana mungkin, karena kita harus mengurus rumah tangga, bisnis, dan lain-lain?” Kalau kita menjadikan Tuhan satu-satunya kesibukan kita, firman Tuhan mengatakan, “Baik kau makan, atau minum, atau melakukan sesuatu yang lain, lakukan semua untuk kemuliaan Allah.” Dan ini tidak akan merusak etos kerja kita. Nanti, kita akan bisa menempatkan diri, bagaimana kita hidup menjadikan Tuhan sebagai tujuan kita. Kita bukan seperti monyet, kucing, kodok, sapi, atau babi yang hari ini hidup, esok mati, lalu selesai. Kita adalah makhluk kekal. Walaupun fisik kita dikubur, kita ada dalam kesadaran abadi dan kita menghadapi kenyataan: Apakah kita dimuliakan bersama dengan Tuhan dalam kemuliaan dengan tubuh kebangkitan, atau dibuang ke dalam api kekal?

Tidak berlebihan kalau kita berporos, berpusat, bermuara, bertujuan serta berproyeksi kepada Tuhan dan Kerajaan-Nya. Jangan main-main dengan Tuhan, jangan melawan Tuhan. Hari ini kita mau berubah, kita meminta ampun dan berubah. Semakin kita melekat dengan Tuhan lewat hidup dalam persekutuan dengan Tuhan, maka kita akan semakin menghayati kesucian Allah dan sungguh-sungguh mau hidup di dalam kekudusan Allah. Di sisi lain, kita makin melihat betapa rusaknya dunia ini, juga betapa rusaknya kita dulu sebelum mengalami pemulihan pembaruan dan diproses seperti ini. Dunia ini sangat jahat, bukan hanya di luar gereja, melainkan juga yang ada di dalam gereja. Banyak orang percaya yang tidak memiliki belas kasihan terhadap sesamanya. Semena-mena terhadap sesamanya, begitu mudah berkhianat terhadap orang lain, jahat, sombong dan angkuh tapi tidak sadar bahwa dirinya seperti itu.

Dengan mengerti hal ini, kiranya kita sadar bahwa kita juga bisa melakukan kesalahan-kesalahan itu tanpa kita sadari. Sejatinya, makin hari kita harus makin menghayati kesucian Allah. Kita semakin menyadari betapa rusaknya kita dulu, dan sekarang masih saja ada unsur-unsur kerusakan yang masih kita lakukan. Namun ironis, kita bisa hidup di dalam kesalahan tanpa kita sadari kita ada di dalam kesalahan. Betapa rusaknya dunia ini. Betapa rusaknya manusia. Melalui kebenaran murni yang kita baca dan dengar, kita harus berjuang sungguh-sungguh untuk menjadi orang yang tidak bercacat dan tidak bercela. Melihat keadaan dunia seperti ini, kita harus bekerja keras untuk menyelamatkan generasi kita. Maka di sisa umur hidup ini, kita harus bekerja sebanyak-banyaknya, sekeras-kerasnya untuk menyelamatkan jiwa; dan hal ini dimulai dari anak-anak.

Iblis pun berusaha meletakkan landasan yang membuat anak suatu hari tidak akan pernah bisa menerima Tuhan, tidak bisa mengerti Kerajaan Surga, tidak bisa mengerti Kerajaan Allah. Iblis sudah membuat persemaian. Ia menyemai anak manusia dari sejak kanak-kanak untuk siap dituai di hari tuanya. Masalahnya, berapa banyak dari kita yang benar-benar mau meratapi keadaan ini? Semakin kita banyak berdoa, semakin kita banyak duduk diam di kaki Tuhan, maka kita akan semakin menyadarinya betapa rusaknya kita dan dunia ini.

Roma 3:23 mengatakan manusia telah kehilangan kemuliaan Allah, itu benar-benar nyata, tetapi tidak banyak orang yang mengerti dan berhati-hati hal ini. Kehilangan kemuliaan Allah itu dahsyat sekali dan bisa fatal. Sebab manusia dirancang untuk memiliki keagungan seperti Bapa. Tetapi sedikit sekali orang yang benar-benar menyadari keadaan ini, sebab tidak banyak orang yang benar-benar mengalami perjumpaan dengan Tuhan dan bersentuhan dengan Tuhan. Kita harus menyadari betapa kita sering memiliki kelicikan-kelicikan yang sangat halus dan yang tidak disadari. Sesuai dengan firman Tuhan yang mengatakan bahwa hati manusia itu licik, lebih licik dari segala sesuatu. Mari kita lebih dahulu membenahi setiap ketidakpantasan di hadapan Allah yang masih ada dalam diri kita masing-masing, baru setelah itu kita membenahi orang lain.