Pada saat itu, Yerusalem merupakan satu-satunya kota yang menyambut Tuhan Yesus dengan sangat meriah. Dalam Injil Matius 21 dan Yohanes 12, kita membaca bagaimana penduduk Yerusalem mengelu-elukan Tuhan Yesus saat Ia masuk kota dengan menunggang anak keledai. Mereka melambai-lambaikan carang pohon palem dan menghamparkan pakaian di jalan, suatu penghormatan yang biasanya diberikan kepada pahlawan yang pulang dari medan perang.

Dengan sikap demikian, sejatinya mereka sedang memaksa Tuhan Yesus menjadi pahlawan mereka — pahlawan versi mereka sendiri. Apakah Tuhan Yesus bukan pahlawan? Tentu, Ia adalah Pahlawan dan Juru Selamat. Tetapi Pahlawan dan Juru Selamat versi Allah, bukan versi mereka.

Siapa yang layak berjalan di atas karpet kehormatan? Raja. Maka ketika tidak ada karpet, mereka menghamparkan pakaian mereka di jalan tempat keledai Tuhan Yesus akan lewat. Mereka mengakui Dia sebagai Raja. Ini penyanjungan yang luar biasa — yang bahkan tidak dilakukan oleh kota lain. Nazaret, misalnya, tidak akan melakukannya karena mereka mengenal Yesus sebagai anak tukang kayu, mengenal orang tua jasmani dan saudara-saudara kandung-Nya. Hanya di Yerusalem Ia dielu-elukan sedemikian rupa.

Namun apa yang mereka lakukan itu tampak sia-sia. Hukuman tetap datang, tidak terhindarkan. Mengapa Tuhan membiarkan mereka menyambut-Nya dengan penuh semarak jika akhirnya tindakan itu dianggap tidak bernilai? Jawabannya sederhana: karena nubuat harus digenapi.

Yesus adalah Juru Selamat dunia, yang menentukan nasib bumi dan surga . Seorang utusan Allah harus diverifikasi oleh nubuat. Nubuat tentang kelahiran Tuhan Yesus, misalnya, sudah dicatat ratusan tahun sebelumnya — bahwa Mesias akan lahir di Betlehem, bukan di Yerusalem. Betlehem adalah kota kecil, sementara Yerusalem adalah ibukota kerajaan.

Bukan hanya kelahiran-Nya, tapi juga kematian-Nya dinubuatkan. Termasuk pernyataan dalam nubuat: “Lihatlah, Rajamu datang kepadamu, Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai.” Mana ada raja datang mengendarai anak keledai? Tetapi itulah Tuhan Yesus.

Semakin kita belajar Alkitab, semakin tak terbantahkan bahwa di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita beroleh keselamatan — hanya nama Yesus Kristus . Dan bagi iman seperti ini, nyawa kita menjadi tidak bernilai. Artinya, kita rela mempertaruhkan hidup kita karena kebenaran itu absolut dan mutlak. Jadi, Tuhan membiarkan mereka menyambut-Nya demi penggenapan nubuat, tetapi Ia tidak terkecoh oleh semangat massa. Ia tidak terbawa arus publik atau semangat zaman. Ia tetap teguh dalam integritas-Nya yang tinggi. Mereka mengelu-elukan Tuhan Yesus sebagai Raja, tapi Tuhan Yesus tetap punya integritas bahwa Dia adalah Raja versi Allah Bapa, bukan Raja versi mereka.

Saat itu, bangsa Israel hidup di bawah tekanan Romawi. Mereka sangat berharap kepada Tuhan untuk membebaskan mereka dari kekuasaan bangsa yang mereka anggap kafir — sebab bagi mereka, hanya Allah Abraham, Ishak, dan Yakub-lah satu-satunya Allah yang benar.

Mereka mendambakan kemerdekaan duniawi: politik, ekonomi, sosial — semua hal yang menyangkut pemenuhan kebutuhan jasmani. Maka, sambutan mereka kepada Tuhan Yesus begitu hingar-bingar, penuh antusiasme, dan bahkan euforia. Tetapi inilah yang membutakan mata pengertian mereka terhadap kemerdekaan yang sesungguhnya, kemerdekaan yang sedang diperjuangkan oleh Tuhan Yesus — kemerdekaan yang jauh lebih agung dan kekal.