Satu hal yang harus terus kita perjuangkan adalah ketekunan. Kita harus tekun — baik pada hari biasa, hari Minggu, maupun hari-hari lainnya. Ketekunan dalam segala hal, tentu yang positif, bagi Allah Bapa kita. Itu membuktikan kecintaan kita kepada Tuhan.
Jika kita hanya rajin berdoa sesaat, ikut puasa sesaat, atau rajin ke hanya gereja sesaat, lalu berhenti karena satu dan lain hal, itu bukanlah ketekunan. Tuhan sering menguji sejauh mana kita memiliki ketekunan. Saat berdoa, kita berjanji untuk hidup suci, tidak bercacat dan tidak bercela; kita berkomitmen meninggalkan percintaan dunia. Namun, setelah doa selesai, apakah kita memenuhi janji, komitmen, sumpah, atau nazar kita?
Setelah itu, kita menghadapi banyak cobaan, godaan, dan kecenderungan dari dalam diri sendiri untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan kesucian Allah. Di sinilah ketekunan sangat dibutuhkan. Ketika berdoa, tekad kita kuat untuk tidak melukai hati Allah, tetapi setelahnya, begitu mudah kita menyimpang. Maka kita harus terus bertekun. Ketekunan dibangun dari dalam diri kita sendiri. Kita tidak boleh kendor.
Ketika Tuhan Yesus berkata, “Berjaga-jagalah kamu,” sebenarnya Ia sedang berkata: “Bertekunlah kamu.” Dalam segala keadaan, kita harus tetap teguh dan kuat. Tuhan berkata, “Berjaga-jagalah kamu dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah” (Mat. 26:41). Saat berdoa, roh kita kuat. Roh yang penurut mendorong kita mengucapkan janji, komitmen, dan nazar. Namun, tanpa ketekunan, kita akan menyimpang dan menjadi tidak setia. “Roh penurut tetapi daging lemah.” Karena itu, kita harus terus bertekun, menggarap agar daging ini mati — artinya tidak dituruti keinginannya. Dan itu tergantung pada kita sendiri.
Setelah selesai berdoa, kita harus berjaga-jaga dan waspada. Jangan menuruti keinginan hati atau daging; dalam hal ini, dibutuhkan ketekunan.
Kita dulu adalah orang-orang yang tidak berkenan di hadapan Allah, belum sungguh-sungguh memiliki kekudusan seperti yang Ia inginkan. Ada kompromi-kompromi, kecil hingga besar. Namun setelah kita bertumbuh dalam Tuhan, kita semakin menyadari dan menghayati kesucian-Nya, lalu berjuang untuk memiliki kesucian seturut standar Allah: sempurna seperti Bapa dan serupa dengan Yesus. Oleh kemurahan-Nya, kita terus dibawa ke arah itu. Kita harus tetap maju, bertekad menuju kemuliaan Allah.
Kita harus menjaga mulut dari makan berlebihan dan mengatur hidup dengan baik, terutama menjaga perkataan — jangan mengucapkan hal yang tidak patut. Jangan menulis satu kalimat atau kata pun yang Tuhan tidak kehendaki dalam gadget kita. Diam, diam, dan diam. Akan ada banyak hal dalam hidup kita yang mendorong kita untuk mengucapkan sesuatu, tetapi kita harus berjaga-jaga.
Firman Tuhan berkata, “Berjaga-jagalah dan berdoalah.” Berdoa di sini tidak hanya berarti melipat tangan atau menekuk lutut. Doa adalah dialog tak terputus dengan Allah. Percakapan yang terus-menerus dengan Tuhan, yang berlangsung sepanjang waktu, karena Roh Kudus — yang mewakili Bapa dan Tuhan kita Yesus Kristus — berdiam dalam diri kita. Kita bisa berdialog setiap saat dengan Dia, dan komunikasi ini bisa kita intensifkan.
Jangan memikirkan hal-hal yang tidak perlu atau tidak patut. Jangan menyimpan kebencian, dendam, atau sakit hati. Jangan memikirkan hal-hal yang najis. Semua itu tergantung kita: apakah kita memilih memikirkan hal yang kudus atau najis, melepaskan pengampunan dan kasih atau menyimpan dendam? Kita yang menguasai diri dan hidup kita.