Seseorang tidak bisa menjadi dewasa dalam satu tahun, apalagi dalam satu hari. Tidak jarang, proses pendewasaan itu harus melalui pukulan atau hajaran. Hajaran inilah yang menumbuhkan kegentaran akan Tuhan—kegentaran di hadapan takhta pengadilan-Nya. Dulu, kita mungkin merasa yakin bahwa setelah meninggal dunia, kita pasti masuk surga. Atau, jika kurang yakin, kita berusaha meyakinkan diri sendiri. Tetapi sekarang, setelah melewati perjalanan panjang dalam mengikut Yesus dan mengalami perjumpaan dengan Tuhan, kita mulai merasakan kegentaran yang jauh lebih besar. Kita menjadi serius dalam memperkarakan: benarkah, jika bertemu dengan Tuhan, kita diperkenan masuk pesta perjamuan Anak Domba atau tidak?
Apa yang dapat kita bayangkan hari ini, belum tentu mencerminkan 10 persen dari kenyataan yang akan kita lihat kelak. Bahkan, mungkin tidak sampai 1 persen dari keagungan sebenarnya dari pesta perjamuan Anak Domba itu. Perjamuan ini adalah momen perjumpaan Yesus dengan orang percaya yang setia sepanjang zaman—mereka yang benar-benar telah lulus ujian iman. Inilah yang dalam 2 Korintus 11:2–3 disebut sebagai perawan suci —yaitu orang percaya yang tak bercacat dan tak bercela, yang tidak dicemari oleh dunia, yang tidak terikat pada percintaan dan keindahan dunia. Walaupun Tuhan menganugerahkan berkat-berkat jasmani dan membawa orang percaya pada kemakmuran serta kehormatan di tengah masyarakat, mereka tidak hanyut dalam dunia.
Perjumpaan ini disebut sebagai pesta perjamuan Anak Domba Allah. Pertanyaannya adalah: apakah kita layak untuk masuk ke dalam pesta itu? Sebab tidak semua orang menjadi umat pilihan (Efesus 1:4–5). Mereka yang menjadi umat pilihan harus menjadi anak-anak Allah, artinya memiliki keberadaan seperti Bapa. Inilah sebabnya mengapa Yesus berkata, “Kamu harus sempurna seperti Bapamu yang di surga,” karena kamu adalah anak-anak-Nya. Kamu harus memiliki sifat-sifat Bapa.
Dalam 1 Petrus 1:17, dikatakan bahwa jika kita memanggil Allah sebagai Bapa, kita harus berhati-hati dalam hidup, sebab Ia tidak memandang muka, tetapi memandang perbuatan kita—apakah semua yang kita lakukan sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah, artinya apakah itu menyenangkan hati-Nya atau tidak.
Menjadi umat pilihan berarti menjadi mempelai Kristus. Dan standar mempelai adalah perawan suci, benar-benar tak bercacat dan tak bernoda. Sebagaimana tertulis dalam 1 Tesalonika 3:13, “Kiranya Dia menguatkan hatimu, supaya tak bercacat dan kudus di hadapan Allah dan Bapa kita pada waktu kedatangan Yesus, Tuhan kita, dengan semua orang kudus-Nya.” Tuhan akan datang bersama orang-orang kudus-Nya untuk menjemput orang kudus.
Mari, di sisa umur hidup kita sekarang ini, kita benar-benar berjuang untuk menjadi orang kudus, orang suci, dan orang saleh di mata Tuhan. Meskipun kenyataannya sangat sedikit orang yang sungguh-sungguh mau berjuang untuk memiliki kesucian sesuai dengan standar Allah, tetapi jika kita adalah umat pilihan-Nya, maka kita tidak punya pilihan lain: kita harus menjadi orang kudus.
Kita juga harus optimis bahwa menjadi orang kudus bukanlah hal yang mustahil—itu adalah sebuah keniscayaan. Pembicaraan ini bukan dimaksudkan untuk menyombongkan diri atau menutupi dosa. Ya, kita semua adalah orang berdosa. Tetapi mulai hari ini dan ke depan, kita harus sungguh-sungguh hidup tak bercacat dan tak bercela.
Jangan sampai kita seperti lima gadis bodoh yang ketika mengetuk pintu pesta perjamuan kawin, tidak diizinkan masuk. Atau seperti dalam perumpamaan tentang seorang bangsawan yang mengadakan pesta perjamuan, tetapi tamu yang datang tidak mengenakan pakaian pesta—dan ia diusir.
Cobalah kita renungkan hal ini dengan serius. Kita bisa saja berkeadaan seperti mereka—tidak diperkenan masuk, atau bahkan diusir dari pesta perjamuan karena tidak mengenakan pakaian pesta. Pakaian pesta itu menunjuk pada kesucian hidup, pada kelayakan hidup di hadapan Tuhan.