Tuhan memberikan kita firman, Roh Kudus yang pasti menuntun, dan Tuhan juga menggarap kita melalui pukulan demi pukulan yang merontokkan manusia lama kita. Karena Tuhan melihat bahwa manusia lama kita masih melekat, maka Ia menggarap kita. Tuhan tidak secara langsung menanggalkan manusia lama kita. Ia hanya memberikan sarana untuk proses penanggalannya. Tetapi, apakah kita mau menanggalkan manusia lama itu atau tidak—itu tergantung dari kita sendiri. Jika kita tidak mau menanggalkannya, Tuhan tidak akan memaksa. Alkitab berkata, “Kerajaan Allah bukan soal makan dan minum, tetapi kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita oleh Roh Kudus.” Maka, tidak ada bagian dari manusia lama kita yang diperkenan untuk masuk Kerajaan Surga sebagai anggota keluarga Kerajaan Allah.

Dengan demikian, manusia lama kita harus digugurkan, diluruhkan. Kita harus menjadi manusia baru secara murni, dengan profil sesuai kehendak Allah. Ini berarti kita dikembalikan kepada rancangan Allah yang semula. Tidak boleh ada unsur-unsur manusia lama atau unsur kekafiran dalam diri kita. Namun, karena sejak kecil kita telah dibentuk oleh lingkungan yang kafir—yang tidak takut akan Tuhan, yang tidak peduli pada hukum, yang fasik—maka semua itu masih menempel dalam diri kita. Ketika kita mulai mengikuti Tuhan Yesus, bagi mereka yang mengasihi Dia, Tuhan akan menggarap. Bagi orang yang lapar dan haus akan kebenaran, Tuhan akan menggarap. Bersyukurlah jika seseorang sudah mengalami proses ini sejak masa muda. Dengan demikian, bentuk atau profil yang Allah kehendaki bisa tercapai.

Namun, jika kita terus melewatkan kesempatan demi kesempatan yang Tuhan berikan—dengan memilih menikmati kesenangan dunia dan hidup sesuka hati—proses tersebut akan terhambat. Bahkan, mungkin sampai meninggal pun kita tidak pernah mencapai profil yang Allah kehendaki. Dan ketika kita menutup mata atau sudah berada di kekekalan, saat melihat profil yang seharusnya kita capai tetapi gagal kita raih, kita pasti akan sangat menyesal. Kecantikan rohani yang mestinya bisa kita miliki—tidak tercapai.

Di sinilah dibutuhkan perjuangan dan perjalanan waktu, sebab Tuhan menggunakan waktu untuk memproses kita. Ia juga memakai berbagai peristiwa kehidupan untuk menggugurkan manusia lama kita, selama kita mau diproses. Setiap kejadian yang terjadi merupakan pukulan, di mana manusia lama kita digugurkan, diluruhkan, dirontokkan, dan harus ditanggalkan. Inilah yang disebut sebagai meninggalkan diri sendiri.

Ketika kita dihantam oleh masalah atau mengalami peristiwa hidup tertentu, kita sering tidak mengerti bahwa ada penggarapan Allah di balik semuanya itu. Tidak sedikit orang justru marah, bersungut-sungut, dan mencari kambing hitam—“Ini gara-gara siapa saya mengalami ini?” Ia tidak melihat adanya tangan Tuhan yang mengizinkan semua itu terjadi, demi supaya kita mengalami pengudusan, penyucian, dan proses penanggalan manusia lama. Allah sungguh luar biasa.

Dan ini menjadi kabar baik yang membahagiakan: bahwa kita bisa mencapai profil itu jika kita mau, sebab Roh Kudus pasti akan menuntun kita. Maka, “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya.” Semua kita—termasuk para pendeta—tidak boleh merasa puas diri dengan apa yang sudah dicapai saat ini.

Dengan jujur, ketika kita ada di hadapan Tuhan, atau dalam saat teduh dan perenungan pribadi, mintalah Roh Kudus untuk menerangi hati kita. Supaya kita bisa melihat unsur-unsur manusia lama yang masih kuat bercokol, masih bertakhta dalam diri kita. Oleh karena itu, kita harus membuka diri untuk dikoreksi Tuhan . Kita harus memiliki kecurigaan rohani terhadap segala sesuatu yang kita hasrati, yang kita inginkan, terhadap keputusan yang kita ambil, dan tindakan yang kita lakukan. Bertanyalah dalam hati: “Jangan-jangan ini manusia lama saya? Bukan kehendak Roh Kudus?” Akhirnya, kita harus berubah—dari manusia daging menjadi manusia roh, dari manusia dengan kodrat manusia menjadi manusia ilahi— man of God dengan divine nature , dengan kodrat Allah. Inilah yang sesungguhnya disebut sebagai anak-anak Allah.