Tuhan rindu membangun hubungan dengan masing-masing kita sebagai putra-putri-Nya, sebagai anak-anak-Nya. Kesadaran ini seharusnya menjadi kekuatan bagi kita—bahwa setiap kita benar-benar berharga di mata Allah. Semuanya itu merupakan bagian dari rancangan-Nya. Allah ingin memiliki relasi dengan setiap insan. Oleh karena itu, tidak cukup hanya dengan datang ke gereja; kita harus menjumpai Tuhan setiap hari. Jangan sampai kita tidak menyediakan waktu untuk menjumpai Tuhan. Dari 24 jam yang kita miliki dalam satu hari, apa sulitnya meluangkan 30 menit? Tiga puluh menit yang menyelamatkan kekekalan kita. Jika kita tidak melakukannya, maka kita tidak akan pernah sungguh-sungguh mengerti bahwa Allah itu ada, bahwa Dia hidup. Kita hanya akan berfantasi tentang Tuhan, tanpa benar-benar mengalami perjumpaan dengan-Nya.

Setiap orang harus memiliki hubungan istimewa, hubungan pribadi yang khusus dengan Allah—menemukan frekuensi itu, hingga kita bisa bermesraan dengan Tuhan. Jika Tuhan mampu menciptakan hubungan istimewa antara pria dan wanita, maka Tuhan juga mampu membangun hubungan yang istimewa antara Dia dan kita.

Dalam Mazmur 73:25–26 tertulis, “Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi.” Ketika di dunia ini kita memiliki banyak pilihan, namun kita tetap memilih Tuhan. Jangan sampai kita baru berkata, “Ya Tuhan, hanya Engkau yang kuingini,” ketika kita telah meninggal. Padahal semasa hidup di dunia, kita tidak menghargai Tuhan; kita lebih banyak menghabiskan waktu untuk berbagai kegiatan lain, namun tidak menyediakan tempat yang layak bagi Tuhan.

Karena itu, carilah Tuhan selagi ada kesempatan. Dalam 2 Korintus 11:2–3, firman Tuhan menyatakan, “Aku mempertunangkan kamu sebagai perawan suci bagi Kristus.” Gereja memiliki peran membimbing kita agar menjadi “perawan suci,” yaitu orang yang hatinya tidak melekat kepada dunia, melainkan melekat kepada Tuhan. Namun hal ini tidak bisa dilakukan oleh pendeta. Pendeta hanya menyampaikan firman, tetapi kitalah yang harus mengisi hidup kita dengan pencarian akan Tuhan—hingga kita memiliki Kekasih Hati, dan Kekasih itu adalah Kesayangan Abadi.

Jika kita membiasakan diri untuk berjumpa dengan Tuhan, maka itu akan mengubah karakter kita. Kita akan menjadi kekasih-Nya, sahabat-Nya. Sebab, Allah Bapa tidak mungkin memasukkan ke dalam rumah-Nya seseorang yang bukan sahabat-Nya, yang bukan kekasih-Nya.

Namun realitas ini sering kali menggelisahkan, karena pengaruh dunia begitu kuat. Jika kita tidak bersikap keras terhadap diri sendiri, maka dunia yang akan menekan kita dengan keras. Oleh sebab itu, bangun pagi, berdoa, siapkan waktu bagi Tuhan, dan jangan mendengarkan hal-hal yang tidak perlu. Dengarkan firman. Ketegasan terhadap diri sendiri ini akan membawa perubahan dalam hidup kita. Jika tidak dilakukan, maka kita tidak akan pernah berubah; kita akan terus merasa asing terhadap Tuhan.

Sekalipun kita rajin ke gereja, tetapi jika kita tidak memiliki hubungan eksklusif dengan Tuhan, maka kita belum menemukan hubungan asmara dengan-Nya. Kita belum mengerti apa artinya bercinta dengan Tuhan—dan hal ini akan sangat kita sesali di kemudian hari. Kita perlu bersyukur jika mendapat teguran semacam ini, sebab ini adalah teguran yang sungguh-sungguh membawa kita kepada keselamatan—bukan sekadar menggerakkan kita untuk melakukan kegiatan-kegiatan gerejawi semata.

Memang ironis, banyak gereja tidak berjalan dengan baik atau benar, sehingga tidak sedikit orang mencurigai bahkan menjauhi gereja. Namun melalui renungan harian ini, kita diingatkan untuk berubah. Kitalah yang harus mengambil tanggung jawab untuk mengubah diri kita sendiri. Kita tidak akan dapat diselamatkan apabila kita tidak mau menyelamatkan diri kita sendiri. Oleh karena itu, usahakanlah dengan sungguh-sungguh untuk mencari Tuhan sampai kita sungguh-sungguh mengalami-Nya—bukan karena perkataan orang lain, melainkan karena kita sendiri yang bertemu dengan-Nya.