1 Korintus 6:19–20 mengatakan, “Kamu adalah milik Allah, bukan milikmu sendiri. Karena itu, muliakanlah Allah dengan tubuhmu.” Roma 12:1 berkata, “Persembahkan tubuhmu sebagai korban yang hidup, kudus, dan yang berkenan kepada Allah, dan jangan serupa dengan dunia ini.” Seperti Yesus yang digambarkan sebagai biji gandum yang jatuh ke tanah dan mati, demikian pula orang Kristen harus seperti biji gandum yang jatuh ke tanah, mati, lalu berbuah. Dalam Yohanes 12:23 Tuhan Yesus berkata, “Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan.” Dalam konteks ini, dimuliakan berarti disalibkan. Lalu Ia berkata, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja.” Ini adalah pernyataan yang ditujukan kepada diri-Nya sendiri.

Orang yang telah melepaskan semua haknya dan menyerahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan adalah seperti biji gandum yang jatuh ke tanah dan mati. Kesalahan banyak orang Kristen—khususnya para pelayan jemaat—adalah menganggap bahwa jika mereka sudah menjadi full timer , maka mereka pasti telah melayani Tuhan dengan benar. Padahal, jika mereka tidak seperti biji gandum yang jatuh ke tanah dan mati, mereka tidak akan menghasilkan buah. Dalam pelayanan, mereka hanya menggerakkan roda kegiatan organisasi, tetapi tidak mengubah manusia. Ingat, buah di sini adalah jiwa-jiwa yang bertobat. Pertobatan menurut standar Allah adalah perubahan dari manusia yang berkodrat dosa menjadi manusia yang berkodrat ilahi, yang layak masuk Kerajaan Surga.

Biji gandum yang jatuh ke tanah dan mati lalu berbuah menggambarkan kehidupan Yesus sendiri, tetapi juga dikenakan kepada orang percaya. Ini adalah khotbah yang keras. Ayat selanjutnya berkata, “Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal.” Kata “nyawa” di sini diterjemahkan dari kata Yunani psukhē (ψυχή) , yang berarti jiwa—tempat bersemayamnya keinginan dan kesenangan.

Murid-murid Yesus pada waktu itu memahami makanan hanya secara fisik. Bahkan mereka masih ingin mengejar kedudukan. Mereka berdebat satu sama lain mengenai siapa yang terbesar di Kerajaan Tuhan Yesus. Mereka belum memahami makna makanan keras. Itulah sebabnya mereka berkata, “Tuhan, izinkan kami duduk di sebelah kanan dan kiri-Mu nanti.”

Tuhan Yesus menjawab, “Kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Kamu pikir itu mudah? Itu murah? Apakah kamu sanggup minum cawan yang Kuminum dan dibaptis dengan baptisan yang Kualami?” Cawan di situ menunjuk pada penderitaan, dan baptisan menunjuk pada kematian. Para murid, dengan polos dan naif, menjawab, “Kami mau.” Lalu Yesus berkata, “Memang kamu akan minum cawan-Ku dan dibaptis dengan baptisan-Ku.” Namun saat itu mereka belum siap menghadapi kenyataan. Buktinya, ketika Yesus ditangkap, mereka semua melarikan diri.

Petrus yang terkenal paling berani—yang membawa pedang dan memotong telinga Malkhus, yang berkata, “Tuhan, jangankan penjara, mati pun aku rela” —justru menyangkal Yesus tiga kali. Tetapi saat itu Petrus belum memiliki Alkitab, belum tahu akhir kisah Injil. Ia belum tahu bahwa Yesus akan bangkit dan dimuliakan sebagai Raja. Maka bisa saja kekecewaan membutakannya. Namun, setelah Petrus diurapi Roh Kudus, ia rela disalibkan dengan kepala di bawah. Luar biasa!

Oleh karena itu, kita tidak seharusnya membela diri dengan berkata, “Petrus pun pernah menyangkal, maka wajar jika saya juga demikian.” Atau beralasan, “Yudas sendiri berkhianat.” Pertanyaannya: mengapa menjadikan Yudas atau Petrus yang pernah gagal sebagai standar? Sekarang mari kita melihat diri sendiri. Apakah kita ini seperti Petrus muda atau Petrus tua? Petrus tua adalah seperti biji gandum yang jatuh ke tanah dan mati. Pertanyaannya: apakah kelakuan kita sudah mencerminkan bahwa kita adalah pengikut Tuhan Yesus? Sering kali mulut kita mengaku, tapi kelakuan kita tidak mencerminkan pengakuan itu.

Sebagai pengikut Yesus, kita harus hidup seperti Dia—menjadi biji gandum yang jatuh ke tanah dan mati. Memang tidak mudah. Tetapi kalau kita tidak mulai sekarang, maka kita tidak akan pernah memulainya.