Tuhan menghendaki hubungan kita dengan-Nya berlangsung secara harmoni. Jangan ada dusta—percaya sepenuhnya kepada Tuhan. Di Alkitab kita membaca tokoh-tokoh iman yang dibawa Tuhan ke dalam keadaan yang memalukan, namun ternyata mereka tidak dipermalukan.

Daud, setelah diurapi oleh Samuel, justru dikejar-kejar untuk dibunuh, bahkan sampai terlihat seperti orang gila. Yusuf nyaris dibunuh, dilempar ke dalam sumur, dijual sebagai budak, difitnah, lalu masuk penjara. Tokoh-tokoh iman mengalami semua itu agar mereka memiliki hubungan yang mesra dengan Tuhan. Dan itu sangat mahal harganya.

Ketika kita berada dalam keadaan seperti itu, jangan berdemo kepada Tuhan—dengan tidak ke gereja, tidak berdoa—itu adalah tindakan yang bodoh. Justru kita harus semakin mencari Tuhan, duduk diam di hadapan-Nya.

Setiap kita belum sempurna. Namun mari kita mengasihi Tuhan dan berusaha sungguh-sungguh membuktikannya: memberikan waktu, tenaga, pikiran, apa pun yang kita miliki kepada Tuhan. Bahkan dengan berani kita berkata: “Apalagi yang kurang, Tuhan, yang Kau kehendaki untuk kulakukan atau belum kuserahkan kepada-Mu?”

Namun, tetap saja Tuhan membawa kita pada keadaan-keadaan yang berpotensi membuat kita mencurigai atau meragukan-Nya: “Kenapa, Tuhan?” Ternyata, keadaan-keadaan sulit itu melatih kita untuk semakin percaya, dan menjalin hubungan harmoni dengan Tuhan. Yang paling besar berkatnya adalah: kita tidak menjadi betah hidup di dunia—karena kita sadar: “Dunia memang bukan rumahku.”

Kalau kita tidak mengalami keadaan yang sulit dan rumit, terus terang, kita bisa menjadi kurang berempati terhadap penderitaan orang lain. Seorang pelayan Tuhan hampir kehilangan putri satu-satunya, namun peristiwa itu justru menumbuhkan cinta yang mendalam terhadap generasi muda. Penderitaan membuat kita lebih empati, dan terdorong untuk menyelamatkan orang lain. Kita merasa berutang kepada Tuhan, sehingga kita melayani-Nya dengan sungguh-sungguh. Tanpa ragu kita berkata: “Aku hidup hanya untuk kesukaan-Mu, Tuhan. Sumpah, janji—aku hidup hanya untuk menyukakan hati-Mu.”

Sebab kita tahu, kalau kita menjadi kekasih Tuhan, maka Tuhan ada di pihak kita. Dia membela kita . Tuhan bisa membawa kita ke sudut yang sangat menyakitkan, tapi jangan pernah berhenti mencari Dia, apa pun yang terjadi. Sebab Tuhan itu setia. Tuhan menggarap kita melalui berbagai peristiwa hidup—semua itu hanya agar nurani kita menjadi sempurna. Dan itu tidak bisa terjadi dalam waktu singkat, atau dengan cara yang mudah. Harus melalui proses. Hal ini hanya berlaku bagi umat pilihan di Perjanjian Baru. Kalau di Perjanjian Lama, ukurannya adalah pengetahuan akan yang baik dan yang jahat. Tapi dalam Perjanjian Baru, ukurannya adalah pikiran dan perasaan Allah.

Karena itu, kalau kita melewatkan satu hari saja tanpa melihat berkat kekal yang Tuhan sediakan, maka kita tidak akan mencapai kesempurnaan. Hidup ini menjadi indah bila kita memiliki tujuan, sasaran, dan target—yaitu target keabadian. Setiap hari kita harus mengumpulkan harta di surga, yang sesungguhnya adalah kesempurnaan dalam Tuhan. Mari kita rela kehilangan nyawa, demi memelihara hidup yang memelihara nyawa kita untuk hidup yang kekal. Yohanes 12:26 berkata: “Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku, dan di mana Aku berada, di situ pun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa.”

Melayani Yesus artinya memperagakan hidup-Nya. Sekalipun kita punya doktrin yang tampaknya menghormati Yesus, tapi bila kita tidak mengenakan hidup-Nya, itu berarti kita tidak melayani dan tidak menghormati-Nya. Melayani Tuhan Yesus berarti meneruskan pelayanan-Nya sebagai utusan Bapa. Kita hanya punya satu kesempatan hidup. Ini bukan hanya ditujukan untuk pendeta, tetapi untuk semua orang percaya. Ketika kelak kita meninggalkan dunia ini dan bertemu dengan Tuhan Yesus, kita bisa berkata dengan penuh sukacita: “Tuhan, sudah kuselesaikan tugasku.” Indah sekali.

Selagi masih ada kesempatan, lakukan. Maka Tuhan akan membuat hidup kita diberkati. Jika hidup kita sungguh-sungguh melayani Tuhan, maka kita akan dijadikan Tuhan orang yang terhormat—pasti di kekekalan, dan juga dipelihara serta dijagai Tuhan di bumi ini.