Firman Tuhan mengatakan bahwa jika seseorang belum dewasa secara rohani, ia belum bisa makan makanan yang keras. Tetapi jika sudah dewasa, ia dapat menerima makanan yang keras. Kepada jemaat di kota Ibrani, rasul Paulus menulis, “Mestinya ditinjau dari waktu, kamu sudah menjadi pengajar, tetapi ternyata kamu lambat, tidak bertumbuh secara normal, sehingga belum bisa makan makanan yang keras.” Rupanya, kehidupan rohani itu paralel dengan kehidupan jasmani. Sebagaimana anak-anak tidak bisa makan makanan keras, demikian pula orang Kristen yang baru bertobat atau yang tidak bertumbuh secara normal tidak bisa menerima makanan keras.

Makanan keras yang dimaksud adalah kebenaran-kebenaran yang hanya bisa dikenakan oleh orang-orang yang sungguh-sungguh mau hidup seperti Yesus hidup. Mereka adalah orang-orang yang tidak menyisakan apa pun untuk dirinya sendiri, orang-orang yang benar-benar all out , yang memiliki penyerahan total dan ketaatan penuh kepada Tuhan—mereka yang rela kehilangan apa pun dan siapa pun. Firman yang keras adalah firman yang diucapkan oleh Tuhan Yesus, yang dikenakan bagi diri-Nya sendiri, dan juga diperuntukkan bagi orang-orang yang memiliki komitmen kuat untuk mengikut jejak-Nya, dengan penyerahan total dan ketaatan sepenuhnya kepada Tuhan.

Ketika Yesus berkata, “Tubuh-Ku benar-benar makanan, darah-Ku benar-benar minuman,” dalam Yohanes 6, orang-orang berkata , “Ini perkataan keras.” Jadi, jika orang tidak memahami maksud perkataan Tuhan Yesus ini, maka akan terdengar aneh. Tetapi jika orang mengerti kebenarannya, maka mereka akan tahu bahwa itu adalah perkataan keras karena Yesus mengurbankan diri-Nya—tubuh-Nya dipecah-pecahkan, darah-Nya ditumpahkan. Tuhan Yesus melepaskan kenikmatan hidup, kehormatan, sanjungan, pujian, dan Ia mengenakan penderitaan, memikul dosa dunia.

Demikian pula ucapan Yesus dalam Yohanes 4:34 adalah perkataan keras, karena ditujukan kepada diri-Nya sendiri: “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.” Pada saat itu, para murid belum dewasa secara rohani. Maka, ketika mereka berkata, “Rabi, makanlah,” Yesus menjawab, “Pada-Ku ada makanan yang tidak kamu kenal.” Mereka menyangka ada orang yang telah membawakan makanan bagi-Nya. Padahal yang dimaksud Yesus adalah bahwa makanan atau rezeki-Nya adalah melakukan kehendak Bapa di surga.

Kita ingat peristiwa ketika Yesus menjumpai perempuan Samaria di sumur Yakub, dekat kota Sikhar. Yesus menginjili perempuan itu, dan perempuan itu kemudian pergi ke daerahnya dan bersaksi kepada banyak orang bahwa ia telah menemukan Mesias. Orang-orang pun datang berbondong-bondong. Inilah yang dimaksud Yesus dengan rezeki atau makanan-Nya.

Sebelum kita dewasa, atau jika seseorang belum dewasa secara rohani, makanannya adalah segala sesuatu yang menyenangkan atau menguntungkan dirinya. Itulah yang ia anggap sebagai rezeki. Dan orang dari pagi sampai malam mencari rezeki yang menguntungkan dirinya. Hampir semua orang seperti itu. Tetapi rezeki Yesus adalah melakukan kehendak Bapa.

Dalam hal ini, kehendak Bapa yang dilakukan Yesus menghasilkan keselamatan jiwa, dan inilah yang menyenangkan hati Bapa. Dalam Lukas 15 dikatakan, jika ada satu orang bertobat, para malaikat di surga bersorak-sorai. Sukacita para malaikat merupakan pantulan dari sukacita Allah sendiri. Maka, rezeki atau makanan yang diusahakan Yesus adalah sesuatu yang menyenangkan hati Allah dengan menyelamatkan jiwa. Tentu bukan sekadar menambah jumlah anggota gereja, melainkan membuat orang bertobat ( metanoia ), berubah. Kekristenan kita harus terus bertumbuh, dari ayat-ayat yang berisi etika dan perbuatan moral, serta janji-janji berkat, menuju kepada ayat-ayat yang keras.

Perkataan yang keras adalah perkataan Yesus yang ditujukan pertama-tama kepada diri-Nya sendiri. Dan ini merupakan standar tertinggi. Ingat, semua kita harus menjadi seperti Yesus. Dalam Filipi 2:5–7 dikatakan bahwa kita harus memiliki pikiran dan perasaan Kristus. Pada akhirnya, memang kita harus menjadi seperti korban sembelihan, di mana seluruh hak kita diambil oleh Tuhan, karena memang Dia telah membeli kita dengan harga yang lunas dibayar. Sehingga kita hidup hanya untuk kemuliaan Allah.