Pembaringan terakhir, sebelum melepaskan ajal di akhir kehidupan kita, merupakan situasi di mana tidak seorang pun dapat menemani kita—baik pasangan hidup, orang tua, teman terdekat, atau siapa pun. Ruangan hidup kita akan menjadi begitu sepi dan kosong. Namun, ada satu Pribadi yang dapat menemani kita, seorang Sahabat yang sejatinya pasti sudah kita kenal. Namun, di sini dibutuhkan membangun persahabatan secara terus-menerus. Ini fundamental. Jangan anggap remeh. Jangan sampai, di pembaringan terakhir, orang baru menyadari bahwa ternyata gelar, kekayaan, pangkat, popularitas, kecantikan, penampilan menarik, kekuasaan, kekuatan fisik, dan apa pun yang selama ini menjadi tujuan, sama sekali tidak dibutuhkan. Dan itu adalah situasi yang sangat mengerikan.

Ironisnya, tidak banyak gereja—atau hampir tidak ada—yang mengingatkan umat mengenai hal ini. Banyak orang Kristen tertipu oleh ajaran yang tidak benar. Mereka diajarkan bahwa asal percaya Yesus, pasti masuk surga. Namun, tidak dijabarkan apa itu percaya, percaya yang bagaimana, dan apa pertaruhannya. Sedangkan dalam kehidupan sehari-hari, mereka tidak sungguh-sungguh. Padahal pada akhirnya, semua yang dikejar ternyata menguap begitu saja. Itulah yang disebut mamon yang tidak jujur, mamon yang tidak bisa dipercayai. Atau mungkin, pada waktu kita berada di ujung maut nanti, kita baru membutuhkan seorang pendeta untuk menyampaikan firman tentang hal ini. Terlambat. Keadaan atau situasi seperti itu memang sulit dibayangkan.

Seseorang harus mengalaminya secara langsung untuk bisa mengerti. Pikiran dan perasaan kita sangat sulit membayangkan situasi itu. Namun, tetap bisa asalkan kita serius memperkarakannya. Sekarang saatnya kita merenung: seandainya hari ini kita berada di pembaringan terakhir, apakah kepastian keselamatan sudah kita miliki? Maka, persahabatan dan persaudaraan dengan Tuhan Yesus harus kita miliki. Satu hari yang Tuhan berikan, harus kita bayangkan sebagai hari terakhir kita.

Kalau ada pertanyaan, “Mengapa manusia harus mati?” Biasanya orang menjawab karena manusia berdosa. Tapi ada satu jawaban yang kelihatannya tidak menyentuh, kelihatannya tidak nyambung, tetapi memuat kebenaran, yaitu karena hidup ini berharga. Seseorang yang mengerti bahwa hidup ini berharga pasti akan hidup tidak bercacat cela, sehingga kematian merupakan jalan untuk mengakhiri semua penderitaan di bumi dan memulai kehidupan yang lebih baik. Jadi, kalau seseorang tidak membuat hidupnya berharga, pasti dia takut mati. Namun karena hidup ini serba tidak menentu atau tidak pasti, maka jangan menunggu ada perang, bencana, huru-hara, atau masalah baru untuk mencari Tuhan.

Jadikan hidup ini berharga dengan hidup berkenan di hadapan Tuhan. Hidup ini harus diakhiri dengan kematian agar dapat memulai sebuah kehidupan yang indah. Kita tidak boleh setengah-setengah ikut Tuhan. Tetapi ini tidak membuat kita menjadi kurang pergaulan atau menjadi aneh, sebab kita tetap bisa merasakan hidup yang indah di dalam Tuhan. Kalau kita datang ke rumah sahabat dan dihidangkan air, maka kita akan meminumnya tanpa ragu-ragu. Dan kalau ditanya, “Yakinkah bahwa air yang diminum itu tidak mencelakai?” Maka kita akan menjawab, “Oh, saya bukan hanya yakin, tapi saya tahu. Saya sudah mengenal sahabat saya ini lebih dari 20 tahun. Ia tidak mungkin meracuni saya.”

Memang, sejujurnya, manusia masih bisa berkhianat. Namun, Tuhan tidak pernah berkhianat. Jadi, kita tidak boleh hanya yakin akan dijemput Tuhan, tetapi kita harus benar-benar tahu. Maka, keselamatan itu tidak boleh hanya menjadi sebuah keyakinan, melainkan pengalaman hidup konkret, di mana seseorang mengisi hari-harinya untuk Tuhan dan melakukan kehendak-Nya. Milikilah pengalaman yang nyata dengan Tuhan, sehingga kita tidak ragu-ragu bahwa kelak kita pasti dijemput-Nya.