Manusia diciptakan sebagai makhluk yang dapat mengekspresikan pikiran dan perasaan Allah. Makhluk yang bagaimanakah yang bisa mengekspresikan pikiran dan perasaan Allah? Ini tentu makhluk yang sudah menyerap sifat-sifat Allah. Dan hal ini tentu harus lewat proses. Itulah sebabnya Tuhan berfirman kepada Adam, “Jangan kamu menyerap yang jahat, sebab kalau kamu menyerap buah pengetahuan yang baik dan jahat dengan cara mengonsumsi buah itu, maka kamu memancarkan pengetahuan dari buah itu.” Seharusnya manusia mengonsumsi pohon kehidupan supaya bisa menyerap pikiran dan perasaan Allah dan bisa menjadi seperti-Nya.

Di Injil Matius 4 dikatakan, “Manusia hidup bukan hanya dari roti, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” Artinya, kita harus meneguk air kehidupan, yang itu adalah firman atau logos. Kalau seorang bergaul dengan Tuhan dan selalu mendengar suara Tuhan, itulah kehidupan yang dimaksud Allah yang membuat manusia bertumbuh. Banyak orang Kristen yang sama sekali tidak menunjukkan perbedaan dengan orang non-Kristen. Bahkan ironisnya, banyak orang Kristen yang lebih buruk dari orang non-Kristen. Padahal, betapa hebat nilai kebenaran Tuhan Yesus dengan pengurbanan Yesus di kayu salib, sehingga kita bisa diangkat atau dianugerahi, lalu manusia bisa menjumpai Allah melalui Roh Kudus.

Roh Kudus akan terus berbicara untuk menumbuhkan kehidupan kita, sehingga kita bisa berkarakter seperti anak-anak yang Tuhan inginkan. Dan sebagai anak-anak Allah—lewat perjumpaan dengan Tuhan di dalam waktu yang ada— Tuhan terus mendewasakan kita sampai titik tertentu, sehingga kita bisa dikatakan lahir dari Allah. Untuk seorang anak manusia lahir perlu waktu 9 bulan, tetapi kalau seorang anak manusia untuk menjadi anak-anak Allah, perlu waktu 10, 30, 50, 70 tahun, atau bisa lebih. Ketika kita meninggal dunia, kita menjadi orang yang sungguh-sungguh telah layak disebut sebagai anak-anak Allah.

Jadi, mengapa Allah menghendaki kita menjadi seseorang yang segambar dan serupa dengan Allah? Karena kita dikehendaki untuk menjadi cermin-Nya, yang memancarkan pikiran dan perasaan-Nya. Sebab ternyata itulah kesukaan Allah. Dan hanya dengan demikian Allah bisa bersekutu dan berdialog dengan kita. Pernahkah kita memikirkan betapa indahnya pergaulan Allah dengan Adam dan Hawa di Eden? Tetapi, ketika Adam dan Hawa memilih jalannya sendiri untuk jatuh dalam dosa, hal itu membuat kualitas mereka tidak memenuhi kepantasan untuk bergaul dengan Allah. Dan itu berakibat mereka terusir.

Allah memilih orang-orang tertentu untuk menjadi sahabat-Nya, seperti Abraham, Ayub, dan Nuh. Mereka adalah orang-orang yang mempunyai kapasitas sebagai sahabat Allah. Jadi hebat sekali kalau kita menjadi umat pilihan yang ditebus oleh darah Yesus Kristus. Hal itulah yang membuat kita menjadi anak-anak Allah yang bisa berdialog dengan Tuhan, bisa bersekutu dengan Tuhan. Allah menciptakan berbagai benda dengan keunikannya. Di setiap benda itu pasti memancarkan kecerdasan Allah yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Dan tidak satu pun yang Allah kehendaki dapat terjadi tanpa rencana yang sempurna dari-Nya.

Sejujurnya, peralihan dari anak-anak dunia menjadi anak-anak Allah adalah satu hal yang sungguh-sungguh sulit, lebih tepatnya mustahil. Jadi, ketika ada orang kaya yang datang kepada Tuhan dan berkata, “Apa yang harus kulakukan supaya aku beroleh hidup yang kekal?” Tuhan menawarkan sebuah gaya hidup, yaitu gaya hidup-Nya sendiri. Tuhan Yesus berkata, “Jual segala milikmu.” Memang, secara harfiah kita tidak harus melakukan hal itu, tetapi kita harus tangkap esensi atau makna dari pernyataan tersebut dengan jelas. Artinya, kita harus rela tidak menjadi pemilik sesuatu dan harus bersedia untuk hidup bagi orang lain. Kemudian Tuhan Yesus berkata, “Datang kemari, ikutlah Aku,” artinya bersamalah dengan Aku, perhatikan apa yang Kuajarkan dan teladanilah cara hidup-Ku, seperti orang-orang yang telah Kupilih untuk bersama-sama dengan Aku.