Percayalah, kita tidak akan pernah menyesal ketika kita menggunakan apa pun yang ada pada kita sekarang ini menjadi alat untuk bersahabat dengan Allah. Kita pasti akan menuai nanti, sebab apa yang kita tabur akan kita tuai. Proyeksi kita bukan lagi menyangkut pemenuhan kebutuhan jasmani atau hal-hal fana dunia, melainkan sudah menjangkau kekekalan. Maka, mari kita sungguh-sungguh membangun persahabatan dengan Tuhan. Semua yang kita miliki suatu hari harus kita lepas. Tidak ada yang tersisa di dalam genggam kita. Tapi semua yang kita miliki hari ini, jika kita gunakan untuk persahabatan dengan Allah, akan menjadi harta abadi.
Lukas 16:10, “Barang siapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar, dan barang siapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.”
Perkara kecil di sini adalah Mamon, uang atau harta. Jadi kalau seseorang gagal dalam bersikap benar terhadap harta dunia ini, maka dia gagal bersahabat dengan Allah. Pada umumnya, orang gagal bersikap benar terhadap Mamon yang tidak jujur ini. Dan Alkitab berkata, “Akar segala kejahatan adalah cinta uang.” Sekalipun kita sudah menjadi orang Kristen yang telah berjalan dengan Tuhan, namun kita tahu betapa tidak mudahnya menaklukkan hati kita terhadap masalah materi.
Lukas 16:11, “Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya?”
Harta yang sesungguhnya adalah kebenaran. Jika menggunakan bahasa sehari-hari, kalimatnya akan seperti ini, “Jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, kalau kamu masih materialistis, kamu tidak akan mengerti firman Tuhan.” Dan kalau orang tidak mengerti kebenaran, dia tidak bisa berdamai dengan Allah, tidak bisa membangun persahabatan. Sebab, bangunan berpikirnya salah atau rusak.
Lukas 16:12, “Dan jikalau kamu tidak setia dalam harta orang lain, siapakah yang akan menyerahkan hartamu sendiri kepadamu?”
Harta orang lain menunjuk harta-Nya Tuhan. Waktu kita menumpang di dunia, kita harus merasakan bahwa segala sesuatu adalah milik Tuhan. Sedangkan “hartamu sendiri” itu nanti, Tuhan mau sediakan kita harta kekal. Jadi, kalau kita tidak mau menjadi miskin di kekekalan, kita harus miskin dulu di bumi. Maksudnya, kalaupun kita mempunyai rumah bagus, uang banyak, namun kita harus mengakui bahwa semua yang kita miliki adalah milik Tuhan. Kalau kita berbelas kasihan kepada orang sejak di dunia, maka Allah akan berbelas kasihan waktu kita menutup mata, dan bahkan ketika kita ke surga pun, anak cucu kita yang masih hidup dibelas kasihan Tuhan.
Akan tetapi, kalau kita tidak berbelas kasihan kepada orang lain, maka kita tidak akan mendapat belas kasihan Tuhan di kekekalan nanti. Jangan berbuat dosa lagi. Kita mau hidup suci, kita mau bersahabat dengan Tuhan. Manusia diciptakan dengan keadaan terkunci, tersandera dalam tatanan hukum dan keterbatasan yang memang tidak bisa disangkali, yaitu manusia tidak mungkin hidup tanpa persekutuan dengan Tuhan. Sehingga, kalau itu disangkali, maka manusia akan binasa. Memang manusia bisa melepaskan diri dari kuncian itu, sebab manusia bisa bebas memilih. Namun, seperti lampu yang tidak bisa terpisah dari sumber tenaga listrik, ia akan mati.
Manusia harus terhubung dengan Allah, yang akhirnya manusia harus memancarkan kemuliaan Allah. Keindahan ciptaan Allah yang begitu sempurna menunjukkan kecerdasan Allah dengan nilai-nilai estetika atau keindahan yang tiada tara. Tetapi keindahan itu tidak bisa menandingi makhluk yang disebut manusia, sebab manusia bisa memancarkan kemuliaan Allah. Keselamatan dalam Yesus Kristus harus mencapai ini, di mana seseorang benar-benar memancarkan sifat Allah. Jika belum atau tidak, maka kita harus meratapi diri dan terus mengikuti-Nya hingga mencapai atau sesuai gambar-Nya Allah.