Setiap kita akan menuai di kekekalan apa yang kita sudah tabur waktu di bumi. Kalau Tuhan masih beri kita umur lebih panjang, kita berutang kehidupan. Dan itu di luar kemampuan kita untuk mengerti, di luar pengertian kita. Tuhan sudah menambah tahun umur kita, memberi kesempatan supaya pada hari pemecatan kita siap menghadapi kekekalan. Jadi, ingat! hari pemecatan bisa terjadi kapan saja dalam hidup kita. Bukan hanya kepada orang tua, juga anak-anak muda, sebab kematian itu bisa datang setiap saat. Kalaupun kalian, anak muda, belum meninggal dunia di usia muda, tapi kalau tidak segera bertobat, dunia akan mewarnai sampai menjadi permanen rusak dan tidak bisa diperbaiki lagi.
Mungkin tidak menjadi orang bejat, tidak menjadi orang yang tak beradab, masih tetap jadi orang baik-baik, santun, tetapi dia tidak menjadi manusia sesuai rancangan Allah semula. Anak muda tersebut gagal jadi Man of God , karena dunia mewarnainya. Mungkin dia tidak meninggal di usia muda, tapi kalau tidak bertobat sedini mungkin, dunia akan merusaknya sampai tingkat tidak bisa diperbaiki menjadi sesuai rancangan Allah semula. Akhirnya dia tidak mencapai kesempurnaan seperti yang Allah Bapa kehendaki. Oleh sebab itu, harus sedini mungkin bertobat.
Nah, bagi kita yang sudah umur, kesempatan kita tidak banyak. Kita harus mengejar ketinggalan kita, namun ingat bahwa waktu itu makin singkat dalam perjalanan waktu, dan kita tidak tahu kapan hari pemecatan kita. Adalah bodoh kalau kita tidak bersiap-siap. Yang dikatakan di Lukas 16, mengajar kita untuk bersiap, berjaga menyongsong, mengantisipasi hari pemecatan kita. Torehkan, goreskan pesan ini di hati supaya kita keluar dari rutinitas hidup yang salah, dan masuk ke dalam rutinitas hidup yang benar, yang mempersiapkan diri kita untuk menuai kekekalan yang indah. Harus dimulai hari ini!
Lukas 16:9, “ Dan aku berkata kepadamu, ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi.”
Menyongsong kekekalan yang dahsyat, kita harus membangun persahabatan dengan Tuhan dengan menggunakan Mamon yang tidak jujur. Mamon yang tidak jujur ini maksudnya segala sesuatu yang bisa menipu kita. Misalnya, kekayaan dunia. Sebab uang bisa memikul segala masalah hari ini, uang bisa menyelesaikan. Tapi mereka lupa bahwa uang sebanyak apa pun tidak bisa mengatur seseorang masuk surga atau neraka. Uang tidak bisa dipakai menyuap Tuhan. Uang bisa membawa kita pergi ke mana pun, tapi uang tidak bisa membawa kita ke surga. Uang bisa mengatur siapapun di bumi, tetapi uang tidak bisa mengatur Tuhan.
Ikat persahabatan dengan Tuhan, jangan ikat persahabatan dengan Mamon, karena ia menipu. Sebab semua kekuatan materi akan lenyap seperti uap. Bukan tidak boleh punya uang banyak. Bekerjalah untuk punya uang sebanyak-banyaknya supaya kita bisa menopang banyak orang. Namun, uang tidak bisa menjadi tempat kita bergantung, tidak bisa menjadi pelabuhan hidup kita. Pelabuhan hidup kita tetap hanya Tuhan! Dan kita harus punya langkah-langkah konkret bersahabat dengan Tuhan untuk menuai kekekalan.
Pertanyaannya, sudahkah kita membuat ikatan, untaian persahabatan dengan Tuhan secara konkret hari ini? Sudahkah kita melakukan apa untuk mengejawantakan, mewujudkan persahabatan dengan Tuhan? Maka kita harus punya persahabatan nyata dengan Tuhan. Jangan melukai Dia. Hanya dengan menjaga perasaan Tuhan, melayani perasaan Bapa, maka di mata-Nya kita istimewa. Hidup bagi-Nya sepenuhnya sebab kepentingan kita hanyalah Diri-nya. Mari kita buktikan tindakan konkret dalam bersahabat dengan Tuhan. Kita gunakan apa pun yang bersifat sementara di bumi untuk menjadi alat bersahabat dengan Tuhan. Waktu, tenaga, harta, talenta, prestasi studi, prestasi karir, semua bisa kita gunakan untuk Tuhan.