Ketika Paulus mengatakan di dalam 2 Korintus 5:14-15, “Jika Dia sudah mati untuk kamu, kamu semua sudah mati. Jadi kalau sekarang kamu hidup, kamu hidup bagi Dia yang sudah mati untuk kamu.” Jadi, Tuhan menjadi satu-satunya kepentingan. Maka kita harus berusaha untuk mengisi komitmen, tekad dan janji kita. Sejatinya, tidak ada yang lebih menguntungkan, tidak ada yang lebih mulia dari kehidupan yang menjadikan Tuhan satu-satunya kepentingan kita. Kalau kita melayani seorang pejabat negara, dia menjadi segalanya dalam hidup kita. Saat kita melayani dia, bahkan keluarganya juga ikut kita layani. Waktu anaknya mau sekolah ke luar negri, kita yang mengorganisir. Ketika istrinya ulang tahun, kita juga yang menyusun acara ulang tahun. Dan kalau dia adalah seorang pejabat tinggi yang tahu budi dan baik jasa, maka dia akan berkata, “Kamu mau apa?”

Sekarang bayangkan, Tuhan semesta alam yang kita layani berkata, “Kamu mau apa?” Kalau kita hidup hanya mempunyai satu kepentingan, yaitu Tuhan, maka kita tidak mungkin dipermalukan, kita tidak mungkin gagal. Bahkan orang-orang yang kita kasihi, keluarga dan sahabat-sahabat, orang-orang dekat kita juga pasti ikut terpelihara. Namun tentu maksud kita menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya kepentingan bukan karena kita mau memperdaya Allah, mengeksploitasi-Nya, namun karena memang kita tercipta hanya untuk Tuhan.

Jadi kalau hari ini ada di antara kita yang merasa ditinggalkan Tuhan, merasa bukan warga masyarakat elit, bukan anggota masyarakat Kerajaan Surga yang utama, menganggap diri sebagai kaum marginal di dalam keluarga Kerajaan Allah, bahkan mungkin kelompok terbuang. Ingat Yesaya 49:15-16 mengatakan, “Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau. Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku; tembok-tembokmu tetap di ruang mata-Ku.”

Namun, banyak orang Kristen atau umat pilihan yang mempunyai banyak kepentingan pribadi. Tuhan tidak menjadi prioritas. Namun ketika mempunyai masalah, lalu merasa Tuhan meninggalkan dan mulai bersungut-sungut. Sejatinya, bukan Tuhan yang meninggalkan umat pilihan, namun umat pilihan yang meninggalkan Dia. Kalau kita menjadikan Tuhan sebagai kepentingan kita satu-satunya, pasti kita menjadi istimewa di mata Tuhan. Kita mau melayani perasaan Bapa dalam segala hal yang kita lakukan dan kita pertimbangkan. Dan pertimbangan kita adalah apakah yang kulakukan atau kuingini ini sesuai dengan keinginan Allah dan menyenangkan perasaan Allah? Jadi, kalau kita memiliki irama hidup dan cara hidup seperti ini, setan tidak bisa menyentuh kita. Dunia tidak bisa mencemari hidup kita.

Kita ada di dunia yang begitu banyak bahaya, maka tidak ada tempat yang nyaman selain di hadirat Tuhan. Namun kita harus berani menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya kepentingan kita. Ini bukan agama fantasi atau Kristen fantasi. Ini harus merupakan interaksi dengan Tuhan secara nyata, bertuhan dengan benar, di mana Tuhan menjadi satu-satunya kepentingan kita. Jika komitmen dan tekad itu kita miliki, kita tergiring untuk berurusan dengan Allah, dan memiliki kepentingan hanya dengan-Nya. Jadi apa pun yang lain yang kita lakukan hanya menjadi sarana kita bertuhan atau berinteraksi dengan Allah.

Ini bukan sesuatu yang berlebihan, melainkan ini standar. Yang pertama, karena memang kita adalah makhluk manusia yang diciptakan untuk Sang Khalik. Yang kedua , kita makhluk kekal. Kehidupan kita bukan hanya sementara di bumi, ada kehidupan kekal nanti. Yang ketiga , karena memang kita tidak akan pernah bisa hidup terlepas dari Sang Khalik. Ada semacam kunci di mana manusia tidak bisa hidup tanpa Tuhan. Jadi kita harus berani mempunyai komitmen ini.