Sedikit sekali orang yang berani memilih untuk menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya kepentingan. Mereka tidak berkeberatan kalau hanya beragama, tidak sulit kalau hanya menjadi orang Kristen, bahkan tidak sulit kalau hanya menjadi aktivis gereja, atau pendeta. Namun kalau sudah membawa diri kita di hadapan Allah dan menyatakan bahwa Dia satu-satunya kepentingan kita, itu hal yang tidak mudah. Tapi kalau kita berani masuk dalam keputusan ini, hidup kita pasti berubah. Bertahanlah terus, bertekunlah terus sampai akhir. Sebab ketika kita menutup mata, ternyata memang tidak ada yang kita bawa, tidak ada yang bisa menyertai kita kecuali Tuhan.

Kalau kita menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya kepentingan, maka kita memiliki Dia, dan Dia memiliki kita. Sehingga di lorong kekal nanti, kita bersama dengan Dia; Sahabat sejati pasti menjemput. Namun jika kita berurusan setengah-setengah dengan Tuhan, maka ketika kita meninggal, kita tidak mungkin diperlakukan istimewa. Maka, sejak sekarang kita harus mencium kaki Tuhan dan berkata, “Tuhan, jangan tinggalkan aku. Tuhan, besertalah dengan aku. Aku tidak bisa hidup tanpa Engkau.” Jangan takut menghadapi apa pun di bumi ini, sebab Tuhan Yesus berkata , “Jangan takut terhadap apa pun yang dapat membunuh tubuh, tapi takutlah akan Allah yang bukan saja berkuasa membunuh tubuh, tetapi membuangnya ke dalam neraka.”

Jangan kita menunda keputusan untuk menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya kepentingan kita. Jujurlah dengan dirimu sendiri—terutama para aktivis, hamba Tuhan, pendeta, worship leader, singer, atau orang-orang yang sudah pelayanan di mimbar—jangan merasa sudah mempunyai nilai. Kita sering menaruh nilai di dalam diri kita sendiri berdasarkan penilaian orang, tetapi sejujurnya, bagaimanakah penilaian Allah terhadap diri kita? Pernahkah kita mempersoalkannya? Hanya dengan Sampai menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya kepentingan kita, baru kita bernilai di hadapan Allah. Tidak sulit menjadi aktivis, hamba Tuhan, pendeta apalagi demi kehidupan nafkah, karir, kehormatan, dan berbagai benefit lain yang bisa diperoleh secara duniawi. Tidak sulit. Namun ketika seseorang merasa tidak mempunyai kepentingan apa pun selain Tuhan sebagai satu-satunya kepentingannya, baru itu berat dan saat itulah dia bisa hidup untuk kemuliaan Allah. Baru Tuhan akan membuat dia istimewa di mata Allah.

Pernahkah kita berpikir seandainya Tuhan membuat daftar nama orang istimewa di mata Allah, apakah nama kita tertulis di situ? Minta hal ini kepada Tuhan, “Tuhan, perkenankan aku tinggal di hadirat-Mu. Tulis namaku di hati-Mu, dan aku tidak minta yang lain.” Tentu tidak boleh basa-basi, jangan munafik. Allah bisa membaca hati kita. Ketika kita bisa menghayati bahwa tidak ada kehidupan di luar Tuhan, maka kita bisa berkata, “Tuhan, biar aku mempunyai tempat di hadirat-Mu sejak di bumi dan membawa diriku terus di hadirat-Mu. Ketika aku meninggal dunia, aku sudah mempunyai tempat di hadirat-Mu.” Semua kebutuhan jasmani kita—rumah, mobil, pakaian, apa pun—bersifat relatif, namun hanya satu yang mutlak, yaitu Tuhan.

Jadi, dengan kesungguhan seperti ini, kita akan mempunyai kemesraan dengan Allah yaitu kemesraan sebagai anak kepada Bapa dan sebagai kekasih bagi Tuhan kita yang mulia, Yesus Kristus. Coba renungkan, siapa kita di hadapan Allah Yang Maha Kudus dan Maha Besar? Tapi kalau kita boleh mendapat tempat di hati Tuhan, betapa luar biasanya itu. Kalau kita menganggap hal ini tidak bernilai, kita sangat celaka. Sebab tidak ada kehidupan di luar Tuhan. Tidak ada keindahan dan kemuliaan di luar Tuhan. Kenapa kita tidak mendesak Dia agar kita diberi tempat di hati-Nya?

Sejujurnya, kita sibuk dengan banyak hal, tetapi kita tidak melihat Dia yang lebih dari segala sesuatu. Itu yang membuat karakter kita tidak bertambah menjadi baik. Padahal, ketika kita mempunyai Tuhan dan menjadikan Dia satu-satunya kepentingan, maka tidak bisa tidak, kita akan berusaha melakukan kehendak-Nya. Dan tidak bisa tidak, kita akan menyesuaikan diri dengan kekudusan Allah lewat pimpinan Roh Kudus. Jangan jalan terlalu jauh, sampai kita tidak mampu balik atau bahkan menoleh pun tidak bisa lagi.