Pendahuluan
Dalam kehidupan, kita sering dipercaya untuk melakukan sesuatu: menjadi pemimpin, guru, orang tua, pelayan Tuhan, atau bahkan hanya menjadi orang yang dipercaya dalam keluarga dan lingkungan.
Tetapi pertanyaannya:
Ketika kita diberi tanggung jawab, siapa yang menjadi dasar kita dalam mengambil keputusan?
Apakah kita mengikuti keinginan sendiri?
Apakah kita takut kepada manusia?
Ataukah kita sungguh-sungguh takut akan Tuhan?
Dalam 2 Tawarikh 19, Yosafat sedang melakukan pembenahan di Yehuda. Ia mengangkat hakim-hakim dan memberikan pesan yang sangat penting: mereka harus menjalankan tugas bukan untuk menyenangkan manusia, tetapi karena mereka bertanggung jawab kepada Tuhan.
1. Kembali kepada Tuhan
Ayat 4:
“Yosafat diam di Yerusalem. Kemudian ia menjelajah lagi ke tengah-tengah rakyat dari Bersyeba sampai pegunungan Efraim dan membawa mereka kembali kepada TUHAN, Allah nenek moyang mereka.”
Yosafat tidak hanya memikirkan pemerintahan. Ia juga memikirkan keadaan rohani rakyatnya.
Ia pergi kepada rakyat dan membawa mereka kembali kepada Tuhan.
Ini menarik.
Seorang pemimpin yang baik bukan hanya bertanya:
“Apakah pekerjaan kita sudah selesai?”
Tetapi juga bertanya:
“Apakah kita masih berjalan bersama Tuhan?”
Kadang-kadang kita terlalu sibuk dengan pekerjaan, pelayanan, keluarga, sekolah, dan berbagai tanggung jawab sampai lupa memeriksa hubungan kita dengan Tuhan.
Kita bisa aktif dalam banyak hal, tetapi hati kita jauh dari Tuhan.
Karena itu, kita perlu terus kembali kepada Tuhan.
Pertanyaan untuk kita:
Apakah kehidupan kita hari ini semakin dekat kepada Tuhan atau justru semakin jauh?
2. Tanggung Jawab Harus Dilakukan dengan Takut Akan Tuhan
Ayat 6–7 berbicara tentang para hakim yang diberi tanggung jawab untuk mengadili rakyat.
Yosafat berkata bahwa mereka harus berhati-hati dalam menjalankan tugas karena mereka bukan hanya bertanggung jawab kepada manusia, tetapi kepada Tuhan.
Inilah prinsip penting:
Takut akan Tuhan berarti menyadari bahwa setiap keputusan kita diketahui dan dipertanggungjawabkan kepada Tuhan.
Ketika tidak ada orang yang melihat, Tuhan melihat.
Ketika tidak ada yang memuji, Tuhan melihat.
Ketika kita mempunyai kesempatan untuk berlaku tidak jujur tetapi memilih tetap benar, Tuhan melihat.
Karena itu, orang Kristen seharusnya tidak melakukan yang benar hanya karena takut ketahuan.
Kita melakukan yang benar karena:
“Saya takut akan Tuhan.”
3. Jangan Takut kepada Manusia
Para hakim diberi peringatan agar tidak memutarbalikkan keadilan, tidak memihak, dan tidak menerima suap.
Mengapa?
Karena ketika seseorang mulai takut kepada manusia, ia bisa kehilangan keberanian untuk melakukan kebenaran.
Misalnya:
- Kita tahu sesuatu itu salah, tetapi kita diam karena takut teman.
- Kita tahu keputusan itu tidak adil, tetapi kita ikut karena takut kehilangan jabatan.
- Kita tahu seseorang bersalah, tetapi kita membelanya karena hubungan keluarga.
- Kita tahu harus berkata jujur, tetapi kita memilih berbohong supaya tidak mendapat masalah.
Di sinilah iman kita diuji.
Apakah kita lebih takut kepada manusia atau lebih takut kepada Tuhan?
Takut akan Tuhan bukan berarti hidup dalam ketakutan terhadap Allah.
Takut akan Tuhan berarti menghormati Tuhan dan menempatkan kehendak-Nya lebih tinggi daripada kepentingan pribadi.
4. Tuhan Memakai Kita untuk Menegakkan Kebenaran
Ayat 10–11 menunjukkan bahwa ada tanggung jawab yang berbeda-beda. Ada yang menangani perkara, ada yang mengurus hal-hal keagamaan, dan ada yang menjadi pemimpin.
Artinya, setiap orang mempunyai tugas.
Tidak semua orang memiliki jabatan yang sama.
Tidak semua orang mempunyai kemampuan yang sama.
Tetapi setiap orang dapat dipakai Tuhan.
Guru dapat menjadi alat Tuhan.
Orang tua dapat menjadi alat Tuhan.
Pemimpin dapat menjadi alat Tuhan.
Pelayan gereja dapat menjadi alat Tuhan.
Anak-anak muda juga dapat menjadi alat Tuhan.
Yang Tuhan cari bukan hanya orang yang pintar.
Tuhan mencari orang yang dapat dipercaya.
Bukan hanya orang yang punya jabatan.
Tetapi orang yang mau melakukan tugasnya dengan benar di hadapan Tuhan.
Inti Renungan
Dari 2 Tawarikh 19:4–11, kita belajar tiga hal sederhana:
1. Kembalilah kepada Tuhan
Jangan sampai kesibukan membuat kita jauh dari Tuhan.
2. Lakukan tanggung jawab dengan takut akan Tuhan
Apa pun tugas kita, lakukan dengan jujur karena Tuhan melihat.
3. Berani melakukan yang benar
Jangan biarkan tekanan manusia membuat kita meninggalkan kebenaran.
Penutup
Kita mungkin tidak menjadi hakim seperti pada zaman Yosafat.
Tetapi setiap hari kita membuat keputusan.
Di rumah.
Di tempat kerja.
Di sekolah.
Dalam pelayanan.
Dalam pergaulan.
Bahkan ketika tidak ada seorang pun yang melihat.
Pertanyaannya bukan hanya:
“Apa yang akan orang katakan tentang saya?”
Tetapi:
“Apa yang Tuhan lihat dalam hidup saya?”
Kiranya kita menjadi orang yang ketika diberi tanggung jawab dapat berkata:
“Saya akan melakukan tugas ini dengan benar, bukan karena ingin dipuji manusia, tetapi karena saya takut akan Tuhan.”
Sebab pada akhirnya, hidup kita bukan hanya dipertanggungjawabkan kepada manusia, tetapi kepada Tuhan.
Doa Penutup
Tuhan, ajar kami untuk selalu kembali kepada-Mu. Berikan kami hati yang takut akan Tuhan, hati yang jujur, adil, dan berani melakukan kebenaran. Tolong kami agar dalam setiap tanggung jawab yang kami terima, kami tidak mencari pujian manusia, tetapi berusaha menyenangkan hati-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.