ALASAN PEMILIHAN TEMA

Keyakinan bahwa gereja bukanlah gedung atau menara belaka, melainkan orang percaya itu

sendiri, adalah prinsip utama dalam memahami apa itu gereja. Namun demikian, orang percaya yang

dimaksud tidak hanya menunjuk pada satu orang saja, tetapi menunjuk pada kumpulan orang

percaya. Sejak gereja berdiri pada hari pencurahan Roh Kudus, gereja sebagai kumpulan orang

percaya yang bersekutu, bersaksi, dan melayani adalah penekanan utama dari penyebaran iman

Kristen yang dimulai dari Yerusalem sampai ke seluruh dunia. Di sinilah kita melihat dinamika gereja

yang tidak dapat dihindari. Gereja yang terdiri dari kumpulan orang percaya, yakni orang-orang yang

mengakui Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, juga adalah orang-orang yang datang dari

berbagai latar belakang yang berbeda, termasuk suku, bahasa, dan budaya masing-masing.

Persamaan dan perbedaan ini, bila tidak dikelola dengan baik dan benar, dapat saja mendatangkan

perselisihan dan perpecahan dalam tubuh gereja sebagai kumpulan orang percaya. Itulah sebabnya

panggilan untuk menjadi “Seia Sekata, Erat Bersatu dan Sehati Sepikir” adalah tema yang

akan direnungkan di sepanjang minggu ini. Di tengah dunia yang maju pesat dalam ilmu pengetahuan

dan teknologi ini, Gereja Masehi Injili di Minahasa perlu memperkuat komitmennya sebagai arakarakan orang percaya yang berjalan bersama-sama dengan Yesus Kristus sebagai Kepala Gerejanya,

menghadapi berbagai rintangan dan tantangan untuk sampai di tujuan.

PEMBAHASAN TEMATIS

◼ Pembahasan Teks Alkitab (Eksegese)

Kitab Kisah Para Rasul menunjukkan bagaimana perjalanan penginjilan Rasul Paulus

membawanya dari satu kota ke kota lainnya dalam misi memberitakan bahwa Yesus adalah Mesias.

Secara khusus, perjalanannya dari Makedonia menuju ke propinsi Akhaya membawanya

mengunjungi sebuah kota di sana, yakni kota Korintus, sebuah kota pelabuhan kosmopolitan yang

makmur. Melalui pekabaran Injil yang dilakukan Paulus, banyak orang menjadi percaya. Itulah

sebabnya Paulus memutuskan untuk tinggal di Korintus selama satu tahun enam bulan dan mengajar

firman Allah di tengah-tengah mereka (lih. Kisah Para Rasul 18:11). Sesudah kepergian Paulus dari

Korintus, jemaat di sana menulis surat kepada Paulus dengan beberapa pertanyaan kunci yang

membutuhkan jawaban dari Paulus. Dalam Surat 1 Korintus, Paulus memberikan jawaban atas isuisu yang muncul di jemaat Korintus dan berbagai pertanyaan mendesak yang mengikutinya.

Sesudah dibuka dengan salam dan ucapan syukur, Surat 1 Korintus 1:10-17 mulai

menunjukkan masalah yang muncul di jemaat Korintus. Jemaat Korintus berada dalam situasi pelik

yang menunjukkan adanya perselisihan yang mengarah pada perpecahan yang disebabkan oleh

rivalitas di antara kelompok-kelompok yang terbentuk di dalam jemaat. Paulus segera memberi

nasihatnya kepada jemaat Korintus yang disebutnya sebagai “saudara-saudara.” Kalimat “aku

menasihatkan kamu” datang dari kata kerja Yunani parakalō. Nasihat Paulus ini didasarkan pada

hubungan persaudaraan dan persahabatan di dalam Tuhan yang telah terbentuk bertahun-tahun,

serta rasa percaya di antara dirinya dan jemaat. Selain itu, nasihatnya diberikan bukan semata-mata

atas dasar otoritas apostoliknya sebagai seorang rasul, melainkan diberikan “demi nama Tuhan kita

Yesus Kristus,” otoritas tertinggi yang di bawahnya Paulus dan seluruh jemaat tunduk. Nasihat Paulus

tersebut ialah “supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu.” Frasa “seia

sekata” datang dari kalimat Yunani to auto legēte pantes yang berarti sepakat, yang bila dipakai dalam

konteks politik berarti bebas dari faksi dan berdamai dalam komunitas. Seia sekata di sini dipahami sebagai berbicara dengan satu suara dan bukannya dalam perang kata-kata. Tidak adanya seia sekata

adalah alasan terjadinya perpecahan (schismata) di dalam jemaat. Itulah sebabnya Paulus meminta

jemaat supaya erat bersatu (ēte katērtismenoi) dan sehati sepikir (en tōautōnoï). Erat bersatu dan

sehati sepikir menolong jemaat dapat mengetahui manakah yang baik dan benar, tidak baik dan

salah. Ini adalah dorongan Paulus agar tercipta harmoni dalam jemaat.

Kenyataan di jemaat Korintus diberitahukan kepada Paulus oleh orang-orang dari keluarga

Kloë, bahwa ada perselisihan di antara mereka. Kabar ini diterima oleh Paulus dan menunjukkan

bahwa pembawa pesan adalah orang-orang yang kesaksiannya dapat dipercaya. Perselisihan (erides)

di sini menunjuk pada perdebatan panas yang menuju ke arah yang tidak dapat ditolerir lagi. Kabar

inilah yang menjadi perhatian utama Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus. Perselisihan

itu nyata dalam munculnya kelompok-kelompok di dalam jemaat yang masing-masing berpusat pada

figur yang mereka hormati secara khusus: golongan Paulus, golongan Apolos, golongan Kefas, dan

golongan Kristus. Masing-masing kelompok meninggikan figur yang dipandang memiliki peran

penting atau karunia khusus dalam jemaat. Paulus dipandang sebagai seseorang yang telah menanam

dan mendirikan jemaat. Apolos dipandang sebagai seseorang yang terdidik dan memiliki kemampuan

retorika yang mumpuni dalam pengajaran Kitab Suci. Nama Kefas yang adalah nama lain dari Petrus

dikenal sebagai rasul Tuhan Yesus dan sangat mungkin dipakai oleh mereka yang menjadi Kristen

dari latar belakang Yahudi yang merasa sulit untuk bersatu dengan orang-orang Kristen berlatar

belakang Yunani. Pada akhirnya terdapat kelompok yang memakai nama Yesus Kristus sendiri!

Paulus memakai tiga pertanyaan untuk menyadarkan jemaat Korintus yang telah dikuasai oleh

semangat perpecahan hingga melupakan bahwa mereka sebagai satu jemaat telah dipanggil kepada

persekutuan dengan Anak Allah, yakni Yesus Kristus sendiri (1 Korintus 1:9). Pertanyaan pertama

yang diajukan Paulus adalah “adakah Kristus terbagi-bagi?” Kata terbagi-bagi datang dari kata Yunani

merizō, yang dipakai secara khusus oleh Tuhan Yesus dalam Markus 3:24-26 untuk menggambarkan

suatu kerajaan dan rumah tangga yang terpecah-pecah, serta Iblis yang berontak melawan dirinya

sendiri dan terbagi-bagi. Pertanyaan kedua adalah “adakah Paulus disalibkan karena kamu?” Jelaslah

bahwa jawabannya adalah tidak. Tidak ada pemimpin manusia manapun yang dapat disetarakan

dengan Kristus dan karya keselamatan yang dikerjakan melalui kematian-Nya di atas kayu salib, dan

Paulus mengajukan pertanyaan ini sebagai tamparan keras kepada jemaat yang telah mengagungkan

figur manusia lalu melupakan sentralitas Kristus dan karya-karya-Nya. Pertanyaan ketiga adalah

“adakah kamu dibaptis dalam nama Paulus?” Masih ada pemikiran di dalam jemaat Korintus yang

memandang adanya koneksi mistis antara mereka dan figur yang membaptis mereka. Hal ini layaknya

orang-orang kafir yang merasa terhubung secara mistis dengan pemimpin yang melaksanakan ritual

di kuil-kuil berhala. Sampai titik ini, Paulus berusaha menyadarkan jemaat Korintus bahwa mereka

dibaptis dalam nama Kristus dan dengan demikian hanya dengan Kristuslah mereka memiliki

hubungan yang khusus dan dipersatukan dalam karya kematian dan kebangkitan-Nya.

Saat mengemukakan tentang baptisan, Paulus mengungkapkan syukurnya bahwa di dalam

jemaat Korintus hanya Krispus dan Gayuslah yang dibaptisnya, “sehingga tidak ada orang yang dapat

mengatakan bahwa kamu dibaptis dalam namaku.” Krispus adalah pemimpin rumah ibadat di

Korintus yang menjadi percaya kepada Tuhan bersama-sama dengan seisi rumahnya karena

mendengar pemberitaan Paulus (Kisah Para Rasul 18:8). Nama Gayus sendiri disebut Paulus dalam

Roma 16:23, yakni dia yang memberi tumpangan kepada Paulus, dan kepada seluruh jemaat. Paulus

juga menyebut keluarga Stefanus sebagai mereka yang dibaptisnya, di mana Stefanus dan

keluarganya adalah orang-orang yang pertama-tama bertobat di Akhaya (1 Korintus 16:15).

Pernyataan ini dipakai Paulus dalam menegaskan untuk apa Kristus mengutusnya, yakni untuk

memberitakan Injil dan bukan terutama untuk membaptis. Bila Paulus diutus untuk membaptis, ia

akan menghitung jumlah mereka yang dibaptisnya dan mengingat nama-nama mereka. Pernyataanpernyataan Paulus berkaitan dengan baptisan sama sekali tidak dimaksudkannya untuk menunjuk

baptisan sebagai sesuatu yang kurang penting, melainkan menyadarkan jemaat bahwa bukan

masalah siapa yang melaksanakan pembaptisan. Siapa yang membaptis dapat saja orang-orang yang

berbeda, namun apa yang terpenting adalah bahwa semua yang dibaptis itu terikat pada Yesus Kristus

saja. Komitmen yang ditunjukkan Paulus dalam memberitakan Injil bukan dengan hikmat perkataan,

melainkan berpusat pada salib Kristus, mempersiapkan jemaat Korintus pada poin selanjutnya dalam

suratnya, yakni salib Kristus sebagai kekuatan Allah, satu-satunya alasan terbesar yang

mempersatukan jemaat

◼ Makna dan Implikasi Firman https://www.profitablecpmratenetwork.com/cjg7awakv?key=d7089fc8c4a472af7fcbef8089abf152 ADVERTISEMENT

Gereja Tuhan harus terus menyadari panggilannya untuk seia sekata, erat bersatu, dan sehati sepikir, di tengah keberagaman dan perbedaan yang akan selalu ada. Hal ini karena Kristus adalah Kepala yang telah mempersatukan anggota-anggota tubuh-Nya melalui karya kematian dan kebangkitan-Nya.

Gereja Masehi Injili di Minahasa sebagai gereja milik Tuhan dipanggil juga untuk menghidupi prinsip ini dalam perjalanannya di tengah dunia, sambil menyadari bahaya yang mengintai. Gereja Tuhan dapat terjebak pada munculnya kelompok-kelompok yang terpecah-pecah karena berbagai alasan duniawi, seperti tokoh yang diidolakan atau agenda-agenda tertentu yang didasari kepentingan pribadi dan kelompok.

Pelaksanaan sensus jemaat perlu dipandang sebagai komitmen seluruh warga gereja untuk terus berjalan bersama sebagai satu gereja Tuhan, dengan Kristus sebagai pusat dan alasan pelayanan. Sensus jemaat menunjukkan anugerah Tuhan yang besar atas gereja-Nya, di mana generasi demi generasi orang yang percaya kepada Yesus Kristus terus ada dalam perjalanan Gereja Masehi Injili di Minahasa. Seluruh warga gereja berkomitmen berkontribusi dalam pelayanan bagi kemuliaan nama Tuhan.

PERTANYAAN UNTUK DISKUSI

Apa yang saudara pahami tentang tema “Seia sekata, erat bersatu dan sehati sepikir” berdasarkan

pembacaan Alkitab 1 Korintus 1:10-17?

Mengapa perselisihan yang mengarah pada perpecahan dapat muncul dan merusak persekutuan

di dalam hidup berjemaat?

Bagaimanakah gereja harus bersikap di tengah ancaman perpecahan dan dalam mengusahakan

persatuan itu?

NAS PEMBIMBING: Efesus 4:3-6

POKOK DOA

Agar Gereja Tuhan terus menyadari panggilannya untuk seia sekata, erat Bersatu, dan sehati sepikir di tengah keberagaman dan perbedaan yang ada.

Agar Gereja Tuhan tidak terjebak pada munculnya kelompok-kelompok yang terpecah-pecah karena berbagai alasan duniawi, seperti tokoh yang diidolakan atau agenda-agenda tertentu yang didasari kepentingan pribadi dan kelompok

TATA IBADAH YANG DIUSULKAN: HARI MINGGU BENTUK I.

NYANYIAN YANG DIUSULKAN

Panggilan Beribadah: KJ No. 7 Ya Tuhan Kami Puji Nama-Mu Besar

Ses Nas Pembimbing: PKJ No. 221 Kasih Allah Pengikatnya

Pengakuan Dosa: NNBT No. 11 Ya Allahku Kami Mengaku Dosa

Pemberitaan Anugerah Allah: KJ No. 39 Ku Diberi Belas Kasihan

Pengakuan Iman: KJ No. 280 Aku Percaya

Hukum Tuhan: No. 73 Kasih Tuhanku Lembut

Ses Pembacaan Alkitab: KJ No. 50a Sabda-Mu abadi

Persembahan: KJ No. 450 Hidup Kita Yang Benar

Nyanyian Penutup: KJ No. 249 Serikat Persaudaraan

ATRIBUT Warna Dasar Hijau dengan Simbol Salib dan Perahu Di Atas Gelombang

Tags: “Seia Sekata 1Korintus 1:10–17 Erat Bersatu Dan Sehati Sepikir”