Jemaat Tuhan ,
Kitab Kisah Para Rasul menceritakan, bahwa ketika orang percaya berkumpul pada hari raya Pentakosta di Yerusalem, “Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.” (pasal 2:4). Hari ini adalah hari kedua perayaan Kepenuhan Roh Kudus kepada para rasul dan pengikut Yesus Kristus di Yerusalem. Pada hari itu, Roh Kudus memberikan kepada orang percaya kuasa yang memungkinkan mereka untuk menyaksikan tentang Yesus Kristus dengan penuh keberanian. Roh Kudus juga memberikan hikmat dan kemampuan untuk berbicara dalam berbagai bahasa, sehingga Injil dapat diberitakan kepada segala bangsa.
Jemaat Tuhan,
Hari ini juga GMIM merayakan sebagai Hari Persatuan P/KB di mana kita berkumpul untuk beribadah guna memperkuat komitmen iman dan pengabdian untuk melayani dan menjadi teladan dalam kehidupan keluarga, persekutuan gereja dan masyarakat. Pada moment yang penuh keberkatan ini, mari kita belajar Firman Tuhan dari Amsal 1:1-7, yang berisi prinsip dasar mengenai kebijaksanaan, pengajaran moral dan etika serta pentingnya hubungan yang benar dengan Tuhan Allah. Prinsip utama firman Tuhan dalam Amsal ini ialah, ketika kita hidup takut akan Tuhan, maka kita akan menerima hikmat dan didikan dalam menjalani kehidupan. https://www.profitablecpmratenetwork.com/cjg7awakv?key=d7089fc8c4a472af7fcbef8089abf152 ADVERTISEMENT
Jemaat Tuhan,
Salomo menekankan bahwa hikmat bukanlah pengetahuan yang kosong atau hanya teori belaka. Hikmat dalam kitab Amsal adalah pengetahuan praktis yang membawa orang untuk hidup dengan benar di hadapan Tuhan Allah. Ini adalah ajaran yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, berhubungan dengan hubungan antar pribadi, keputusan-keputusan yang bijaksana dan tindakan yang membawa kepada kebaikan.
Pada Amsal pasal 1 ayat 7 menyatakan, “Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan.” Ayat ini adalah inti dari seluruh kitab Amsal dan merupakan prinsip teologis yang mendalam. Pemahaman, “takut akan Tuhan” bukanlah rasa takut yang mengarah pada ketakutan atau rasa cemas, melainkan lebih kepada rasa hormat, kekaguman dan kesadaran akan kedaulatan Tuhan Allah. Takut akan Tuhan berarti mengakui bahwa Ia adalah yang paling berkuasa, yang memiliki hikmat tak terbatas dan bahwa manusia harus hidup dengan bergantung dan berharap pada-Nya. Pemahaman “takut akan Tuhan” adalah sikap hati yang memprioritaskan kehendak Tuhan Allah di atas kehendak pribadi dan kesediaan untuk tunduk pada ajaran-ajaran-Nya. “Takut akan Tuhan” menjadi dasar bagi segala pengertian yang benar, karena hanya melalui hubungan yang benar dengan Tuhan Allah seseorang dapat memperoleh kebijaksanaan yang sejati yang membawanya untuk hidup sesuai dengan hukum dan ketetapan Tuhan Allah, menjalani hidup yang adil, bijaksana, baik dan penuh dengan kasih.
Jemaat Tuhan,
Salomo juga memperingatkan agar jangan menolak hikmat dan didikan, jika menolak berarti hidup dalam kebodohan. “Tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.” Penolakan ini adalah penolakan terhadap takut akan Tuhan. Orang yang “bodoh” dalam konteks ini bukanlah orang yang tidak berpengetahuan, tetapi orang yang menolak untuk hidup sesuai dengan ajaran Tuhan Allah, yang memilih untuk hidup dalam kebodohan dan tanpa pengakuan akan kedaulatan-Nya. Penolakan terhadap hikmat ini adalah langkah menuju kehancuran.
Dalam perspektif teologis, penolakan terhadap hikmat adalah hidup jauh dari Tuhan Allah yang pasti akan berakhir dengan kebingungan, kesesatan, kehancuran dan kebinasaan. Sebaliknya, orang yang takut akan Tuhan menerima hikmat dan didikan dari Tuhan Allah. Didikan-Nya tidak hanya mengajarkan orang untuk berpikir dengan benar, tetapi juga untuk hidup dengan benar, yaitu sesuai dengan prinsip-prinsip moral dan etika yang telah disampaikan dalam Kitab Suci. Didikan ini membawa orang pada hidup yang penuh dengan kebijaksanaan praktis yang menuntunnya untuk melakukan keputusan yang benar, berperilaku dengan adil, baik dan mengasihi sesama.
Jemaat Tuhan,
Amsal 1:1-7 mengajarkan bahwa “takut akan Tuhan adalah permulaan dari hikmat.” Tanpa pengakuan akan Tuhan sebagai sumber hikmat, maka pengetahuan manusia akan terbatas dan gagal membawa pada kehidupan yang benar. Hikmat sejati membawa seseorang untuk mengarahkan hidupnya agar sesuai dengan kehendak Tuhan Allah. “Takut akan Tuhan” adalah langkah pertama untuk membuka hati kepada hikmat yang diberikan-Nya. Itu adalah fondasi dari kehidupan yang bijaksana dan penuh dengan berkat. Dengan “takut akan Tuhan” maka kita memperoleh pengajaran yang tidak hanya mengubah cara berpikir kita, tetapi juga mengubah cara hidup kita, dari hidup kedagingan dan terpisah dari Tuhan Allah, menjadi hidup rohani yang intim dengan-Nya sehingga perilaku hidupnya penuh kasih, kebenaran, kebaikan dan keadilan, yang mencerminkan manusia sebagai imago Dei atau citra Allah.
Jemaat Tuhan,
Dalam Perjanjian Baru, Yesus Kristus digambarkan sebagai hikmat Tuhan Allah yang sempurna dan diwujudkan dalam bentuk manusia. Hikmat ini bukan hanya teori atau pengetahuan, tetapi hikmat yang hidup dalam praktik kehidupan yang sempurna sebagaimana seharusnya manusia hidup menurut kehendak Tuhan Allah. Firman Tuhan dalam Kolose 2:3 menyatakan bahwa dalam Yesus Kristus “terpendam segala harta hikmat dan pengetahuan.” Yesus Kristus bukan hanya seorang pengajar hikmat, tetapi Dia adalah sumber hikmat itu sendiri. Semua yang dilakukan oleh Yesus Kristus di dunia ini — mulai dari hidup-Nya yang tanpa dosa, ajaran-Nya yang penuh kasih, hingga pengorbanan-Nya di kayu salib —merupakan penyataan hikmat Tuhan Allah yang sempurna.
Yesus Kristus adalah pusat dari hikmat dan didikan Tuhan Allah. Melalui hidup-Nya, ajaran-Nya, dan pengorbanan-Nya di kayu salib, Ia mengungkapkan hikmat yang sejati dan menjadi teladan bagi umat manusia. Sebagai pengajar hikmat, Yesus Kristus membawa umat-Nya untuk memahami kehendak Bapa-Nya dan bagaimana hidup sesuai dengan kehendak-Nya. Didikan-Nya adalah ajaran yang tidak hanya mencakup pengetahuan, tetapi juga mencakup transformasi hidup yang membawa kita lebih dekat kepada Tuhan Allah.
Jemaat Tuhan,
Dalam persekutuan di Hari Persatuan P/KB GMIM ini, dengan semangat memberitakan Injil Yesus Kristus yang dimulai dari peristiwa Kepenuhan Roh Kudus yang terjadi pada perayaan hari Pentakosta, marilah kita menjadi kepala keluarga yang penuh hikmat dan didikan, dengan hidup rendah hati, sabar, tabah serta tangguh. Mari kita menjadi P/KB GMIM yang bekerja cerdas, ulet dan tekun dalam memperjuangkan kesejahteraan hidup keluarga. Hendaklah kita menjadi pemimpin yang berhikmat dan bijaksana dalam keluarga, gereja dan masyarakat, dengan hidup dalam takut akan Tuhan, untuk menjadi teladan yang mendidik generasi muda gereja agar memiliki kualitas hidup dalam iman dengan penuh semangat untuk bersekutu, bersaksi dan melayani. Marilah kita terus berupaya mewujudkan GMIM sebagai gereja yang mandiri dalam berteologi, daya dan dana, supaya GMIM akan terus eksis dalam misi penginjilan di semua bidang kehidupan bagi kemulian nama Tuhan Allah dalam Yesus Kristus Kepala gereja dan Juruselamat dunia. Yesus Kristus kiranya selalu memberkati kita. Amin.
Tags: “Takut Akan Tuhan Menerima Hikmat dan Didikan” 9 Juni 2025 ( Hari Raya Pentakosta II & HAPSA P/KB GMIM) Amsal 1:1-7 gmim MTPJ