Sadarkah kita bahwa wajah kekristenan yang asli telah berubah dari masa ke masa? Kita yang hidup di abad 21, sebenarnya telah mewarisi kekristenan yang telah banyak berubah. Namun, kalau kita sungguh-sungguh mau mencari Tuhan dan mau menemukan wajah asli dari kekristenan, kita pasti menemukannya. Mengenai kembali ke Alkitab atau back to the Bible, itu bukan hanya bicara soal pengajaran yang biasanya standar, ukuran, parameter dari Bible adalah ajaran-ajaran yang telah diakui oleh gereja-gereja sebagai kebenaran yang alkitabiah atau kebenaran yang murni atau asli. Kita mau back to the Bible bukan berdasarkan ajaran yang sudah ada, melainkan kita kembali ke Alkitab sesuai dengan apa yang Alkitab tulis . Kiranya Roh Kudus menolong untuk kita serius mencari Tuhan, Allah yang tidak berubah, Maha Hadir, dan berbicara. Roh Kudus pasti menuntun agar kita kembali kepada wajah kekristenan yang asli.

Kurang dari ini, bukanlah kekristenan. Kurang dari ini, palsu. Inilah wajah kekristenan. Jangan digantikan keberagamaan, liturgi, hukum, atau etika budi pekerti yang baik. Sebaik apa pun, itu bukan standar kebenaran. Injil itu kabar baik. Tentu bukan baik menurut siapa pun, melainkan baik menurut Allah. Melalui Injil, manusia dapat dikembalikan ke rancangan Allah semula, untuk layak menempati dunia yang akan datang. Anugerah bisa mengubah relasi atau hubungan kita dengan Allah yang tadinya sebagai musuh karena dosa, tetapi oleh kurban Tuhan Yesus, kita menjadi sekutu; diperdamaikan; dibenarkan. Dibenarkan bukan berarti otomatis kita ini benar.

Anugerah tidak mengubah kodrat dan karakter kita secara otomatis, tetapi mengubah relasi atau hubungan dengan Allah. Dengan anugerah, kita menjadi anak-anak Allah. Kita menerima meterai Roh Kudus artinya potensi untuk mengalami perubahan supaya kita benar-benar benar, bukan hanya dibenarkan. Selanjutnya, kita bisa berkeberadaan sebagai anak-anak Allah. Bukan hanya status yang kita akui, melainkan berkeberadaan sungguh-sungguh sebagai anak-anak Allah. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata: “Jadikan semua bangsa murid-Ku.” Harus berproses.

Memang serupa dengan Yesus itu abstrak. Namun, tidak menjadi abstrak ketika proses itu berlangsung dalam setiap individu dan mengalami bagaimana perubahan atau pembaruan hidup. Akhirnya kita bisa memanggil, “Abba, ya Bapa.” Kekristenan harus dirumuskan dalam kehidupan konkret pribadi demi pribadi . Tdak ada yang sama, karena setiap orang memiliki pergumulan yang berbeda-beda. Namun, Roh Kudus yang Maha Kuat, Maha Hadir, yang adalah Roh Allah sendiri, akan menuntun kita kepada kesempurnaan. Ini proses yang harus terjadi atau berlangsung dalam hidup kita. Proses yang membuat seseorang mengalami pemisahan dari manusia lama menjadi manusia baru. Bukan sekadar menjadi lebih baik, lebih bermoral, lebih berbudi pekerti, tidak. Manusia lama benar-benar ditinggalkan.

Proses itu dirasakan dan tidak bisa diceritakan, diungkapkan kepada orang lain karena ada karya Roh Kudus yang begitu pribadi sifatnya dan confidential ; sangat rahasia dalam hidup seseorang. Sehingga dia menjadi manusia baru. Kalau orang bicara soal kelahiran baru, ada banyak buku atau karya ilmiah menulis tentang hal itu. Namun, itu tidak menjawab keselamatan. Sebab, yang menjawab adalah proses konkret setiap individu, yaitu dia mengalami proses dalam pimpinan Roh Kudus. Jadi, ketika kita percaya Yesus, kita diperdamaikan dengan Allah. Namun, keadaan kita masih manusia lama.

Kita harus bisa melihat dua manusia itu di dalam diri kita. Kita harus mengalami proses pertumbuhan sampai terjadi pemisahan. Tentu tidak dalam sekejap, tetapi lewat proses, mulai ada pemisahan. Terus bertumbuh, prosesnya harus semakin berubah, sampai bisa terpisah. Inilah lahir baru yaitu menjadi anak-anak Allah; seperti Paulus yang mengatakan, “Aku telah mati, hidupku tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. Hidupku bukan aku lagi, tetapi Kristus yang hidup di dalam aku.”

Tuhan Yesus berkata, “Kamu tak dapat mengabdi kepada dua tuan,” berarti kita tidak bisa mengenakan manusia lama, tetapi juga manusia baru. Kita memang masih mengenakan tubuh dosa, tetapi kita tidak boleh menurutinya. Roma 7 adalah proses yang dialami Paulus, dia berkata, “Aku tahu apa yang baik, tetapi yang jahat kulakukan,” dia sudah mulai menemukan dua manusia di dalam dirinya. Jelas dikatakan di dalam Galatia, “Hiduplah oleh roh maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging. Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan roh, dan keinginan roh berlawanan dengan keinginan daging. Karena keduanya bertentangan, sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki.”

Memang sebagian kita rata-rata masih menyatu, belum sampai berpisah. Bagaimana proses perpisahan itu terjadi? Jika, pertama, kita sungguh-sungguh serius belajar kebenaran, karena kebenaran akan memerdekakan kita, Yohanes 8:31-32. Firman itu memisahkan, “jiwa dan roh.” Kedua, hidup di dalam doa. Kita akan mulai punya kepekaan merasakan apa yang sesuai kehendak Allah, apa yang tidak. Inilah yang dimaksud Paulus, “ Aku tahu apa yang baik, tetapi yang jahat kulakukan.” Pasti tidak bicara mengenai hukum. Itu bicara mengenai apa kehendak Allah; apa yang baik, yang berkenan, dan yang sempurna. Namun, harus dimulai dulu dari usaha untuk menjadi baik. Orang tidak mungkin sempurna kalau tidak baik.

Kekristenan harus dirumuskan dalam kehidupan konkret pribadi demi pribadi.