Yohanes 10:10

“Pencuri itu datang untuk mencuri, membunuh, dan membinasakan. Tapi Aku datang untuk memberi hidup, supaya mereka memiliki hidup itu dalam segala kelimpahan.”

Kedatangan seorang pencuri pasti tidak kita ketahui dan bahkan bisa tidak kita sadari. Kalau menggunakan diksi ‘pencuri,’ berkaitan dengan kelicikan, dan diusahakan tidak disadari oleh si tuan rumah atau si pemilik barang. Begitu cerdik, begitu licik, dan senyap. Mereka mencuri atau mengambil apa yang menjadi bagian kita, seperti firman yang ditabur lalu ada burung yang mematuk dan mengambil firman itu. Kita membiarkan burung-burung mematuk firman, karena kita mengizinkan dia masuk di ruangan hati kita. Memang, kita tidak bisa melarang burung terbang di kepala kita, tapi kita bisa melarang dia untuk bersarang di sana. Kita tidak bisa menghindari gadget dan berbagai pengaruh di sekitar kita, tapi kita tidak boleh memberi ruangan untuk hal itu menetap di dalam diri kita. Tidak boleh, maka kita harus ketat.

Dan ini tergantung dari setiap kita, seberapa kita mau. Kita harus bersikap ketat dalam mengasihi diri sendiri. Namun, jangan mengasihi diri secara salah. Orang tua-orang tua yang ingin anaknya sukses dalam karier, studi, bisnis—maka anak-anak dikuliahkan di sekolah yang terbaik, dicukupi semua kebutuhannya, diberi usaha, disiapkan warisan. Sejatinya, semua itu hanya sampai di kubur. Setelah itu, kita buang anak-anak ke neraka selamanya, karena kita tidak mewariskan kekekalan. Karena kita sendiri juga tidak bisa mengasihi diri sendiri dengan benar. Standar mengasihi orang lain adalah mengasihi diri sendiri dengan benar; “Kasihilah sesamamu seperti kamu mengasihi dirimu sendiri.” Sadarlah bahwa apa yang kita konsumsi tiap hari bisa jadi adalah racun yang membunuh; bukan membunuh fisik semata, melainkan membunuh jiwa kekal kita.

Kalau kita salah minum obat, kita bisa menghentikan perjalanan hidup kita; yang mestinya bisa mencapai 80 tahun, sekarang hanya jadi 50 tahun. Kalau seorang pecandu narkoba mengasihi diri sendiri dengan mengonsumsi narkoba, apakah dengan cara yang sama dia memberikan narkoba kepada temannya? Dia gagal mengasihi dirinya sendiri, maka dia juga tidak bisa mengasihi orang lain. Dia mencelakai dirinya sendiri dan dia mencelakai orang lain. Sama seperti pendeta yang fokusnya berkat jasmani, maka khotbahnya pasti hal kemakmuran jasmani, dan dia mendoktrin jemaatnya dengan kemakmuran jasmani dan tidak membawa kepada kekekalan. Jadi sekarang kita harus mulai sadar bahwa ada yang salah dalam hidup kita. Dan kita harus melarikan diri dari pengaruh dunia ini.

Kalau kita tidak mengonsumsi suara dan kebenaran Tuhan, maka kita menghentikan kehidupan, kita dibuang ke dalam api kekal. Kita tidak bisa menyalahkan setan. Setan jelas jahat, dia pencuri. Tetapi apakah kita memberi diri tercuri atau tidak, tergantung kita. Karena setan sebenarnya tidak bisa paksa kita untuk berbuat jahat. Seperti juga Tuhan tidak paksa kita berbuat baik. Tergantung kita. Waktu Tuhan memberi perintah: “ Kamu boleh makan puas di taman ini. Semua buah, termasuk buah dari pohon kehidupan yang adalah kebenaran yang harus dikonsumsi .” Dikatakan “Kamu boleh,” itu sebenarnya adalah “kamu harus makan.” Kalau buah fisik, itu untuk jasmanimu. Kalau pohon kehidupan, itu untuk kehidupan rohanimu. Kamu harus makan. Tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat , jangan dimakan.

Pertanyaannya, selama ini kita mengonsumsi apa untuk jiwa kita? Firman yang benar, adalah firman yang diucapkan Allah, menyatu dengan diri kita, supaya kita dipenuhi oleh Allah. Karena firman dari Allah, terjadi lewat peristiwa hidup dan batin kita. Itu tidak cukup dengan membaca Alkitab, tidak cukup dengan sekolah tinggi teologi, tapi harus mendengar suara Tuhan. Kalau hanya pengetahuan kognitif, itu bisa ditarik-tarik seperti karet. Tetapi kita harus menghadirkan Roh Kudus yang memimpin kita. Setiap hari Tuhan berbicara. Beri ruangan di hati kita untuk mendengar suara Tuhan. Kita harus memberi ruangan yang cukup. Kita minta pimpinan Roh Kudus, apa yang patut kita konsumsi dan yang tidak. Kalau kita terus mencari suara Tuhan—makanan untuk jiwa—maka kita menjadi seorang yang bersifat Allah. Kita akan punya hakikat Allah, punya kodrat ilahi. Orang-orang seperti ini yang akan bersama-sama dengan Allah di kekekalan.

Namun ingat, Iblis juga mau kita bersama dia, menjadi mempelai dia. Maka Iblis memasukkan racun itu, yang membuat kita jadi gila hormat, materialistis, gila seks, gila jabatan. Walaupun mungkin kita tidak kelihatan kasar karena dikemas begitu baik, santun, etis, arif, dan bijaksana atau beradab, tapi setan yang telah mendesain kita menjadi manusia yang bukan manusia Allah. Ayo, kita berubah. Tuhan akan bicara kepada kita lewat peristiwa, keadaan, kejadian, dan lewat banyak hal. Tapi kalau kita membuka telinga terhadap banyak hal, maka kita tidak bisa mendengar suara Tuhan karena gaduh.