Abraham adalah seorang yang taat kepada Elohim Yahweh. Ketika dia disuruh keluar dari Ur Kasdim, dia keluar. Namun Abraham bukan tidak pernah bikin salah. Dalam sejarah hidupnya, Abraham punya kesalahan, tetapi kita melihat bagaimana Abraham belajar taat ketika ia harus mempersembahkan miliknya yang paling dia cintai. Dia lakukan itu tanpa berbantah-bantahan. Kalau bicara sampai level ini, kita kadang-kadang menjadi frustasi, sebab banyak orang tidak berani mempertaruhkan nyawanya untuk keselamatan abadinya. Itu seperti orang mau dapat barang bagus dengan harga murah. Hidup kekal atau hidup yang berkualitas itu bukan hidup yang nanti di balik kubur. Harus dimulai dari sekarang, bukan hanya nanti setelah kita mati. Sebab bicara soal kekekalan, ingat, bukan hanya di surga ada kekekalan, namun di neraka pun ada kekekalan. Hidup kekal bukan hanya bicara soal panjangnya hidup, melainkan juga dalamnya hidup, mutu hidup dan kualitas hidup.

Banyak teks dalam Alkitab yang menunjukkan bahwa menjadi anak-anak Allah adalah proses yang harus diperjuangkan. Banyak orang lebih berusaha untuk memiliki kepantasan di hadapan manusia atau bagi manusia di kelasnya. Kalau kita punya penghasilan per bulan Rp300 juta, kita pasti kumpul dengan orang-orang yang kelasnya tidak berbeda jauh. Kita harus punya kepantasan dengan penghasilan Rp300 juta. Maka tidak mungkin Anda naik mobil yang kelas Rp125 juta. Kalau ibu-ibu, tidak mungkin dipakai tas yang harga Rp1 juta, apalagi berkualitas KW 2, tetapi pasti yang original branded . Dan orang mau pantas di hadapan manusia, tentu di lingkungan kelasnya. Tapi, ironis, mereka tidak berusaha bagaimana menjadi manusia yang pantas di hadapan Allah, yaitu sebagai bangsawan surgawi.

Untuk menjadi seorang yang pantas di hadapan manusia, seseorang berusaha sekuat tenaga, seperti misalnya dalam berpakaian apalagi jika ada acara pernikahan. Dan manusia itu mau terus memiliki peningkatan seiring dengan peningkatan ekonomi, atau peningkatan status yang dia miliki. Dia harus memantaskan diri di kelasnya. Itu sudah menjadi hukum sosial. Hal ini tidak dikatakan salah, tetapi apakah seimbang dengan usaha kita untuk memantaskan diri di hadapan Allah sebagai bangsawan surgawi yang mana kelas kita ada di situ?

Kalau untuk pesta pernikahan selama 2 jam kita memerlukan 1 tahun persiapan, bagaimana dengan persiapan kita untuk kekekalan? Kita tidak berhak katakan salah mempersiapkan perkawinan selama 1 tahun untuk pesta 2 jam, namun seimbangkah dengan usaha kita mempersiapkan kekekalan? Kita diberi waktu 70 tahun untuk mempersiapkan kekekalan. Bukan waktu yang lama, namun juga tidak singkat, seharusnya itu cukup asalkan kita mengisinya dengan bijak. Maka kita harus selalu persoalkan, “Tuhan, bagaimana agar hidup saya lebih benar? Bagaimana saya bisa lebih bersih? Bagaimana aku bisa melihat masalah besar menjadi kecil dan tahan menghadapi tantangan-tantangan?”

Ini bukan satu hal yang hiperbola, sebab kalau kita melihat kekekalan, kita akan mengerti apa yang kita pelajari hari ini, dan bahkan kita akan mengharapkan diperingatkan lebih keras dari ini. Banyak orang kalau bicara mengenai hobi, maka suhu atau gairahnya itu naik. Kalau soal uang, suhunya juga naik. Tapi kalau bicara soal Tuhan, seberapa suhu gairah kita? Mungkin kita masih rajin datang ke gereja, mendengar firman, tapi kalau kita tidak bertobat sungguh-sungguh, kita akan menjadi sampah abadi! Jangan main-main dengan satu hal ini. Tapi ini tidak bisa kita mengerti kalau kita tidak merindukan bertemu dengan Tuhan.

Tuhan Yesus berkata, “Aku mau di mana Aku ada, kamu ada.” Kalau Tuhan Yesus memiliki satu compassion yang begitu tinggi, lalu menyelamatkan kita dan punya kerinduan yang begitu dalam untuk kita, apakah kita mengimbanginya? Tuhan ingin di mana Dia ada, kita ada. Sekarang, apakah kita juga mengingini di mana Dia ada, kita ada? Seberapa dalam gairah dan kerinduan kita untuk bersama Dia? Kalau agama-agama pada umumnya mengajarkan umat untuk melakukan hukum-hukum atau syariat, maka umat akan dipahalai di dunia, diberkati, dirahmati, dan nanti kalau mati masuk surga serta dipahalai lagi. Tapi kekristenan tidak begitu. Kekristenan mengajarkan umat untuk mengenal Allah yang benar, melakukan apa yang Dia ingini, lebih dari melakukan hukum.