Banyak orang Kristen yang tidak mempersoalkan bagaimana menjadi anak seperti yang diinginkan oleh Allah Bapa. Sebab ada banyak orang Kristen yang berpikir, berpendirian serta berasumsi kalau menjadi orang Kristen otomatis menjadi anak-anak Allah. Ditambah lagi dengan kekeliruan terhadap konsep “ only by grace” atau “sola gracia ” hanya oleh karena anugerah. Seakan-akan kematian Tuhan Yesus di kayu salib secara otomatis atau dengan sendirinya menempatkan orang-orang Kristen menjadi anak-anak Allah. Biasanya, mereka hanya merayakan sukacita sebagai anak-anak Allah atau orang-orang yang dikasihi Tuhan. Menjadi anak kesayangan, tapi tidak mempersoalkan bagaimana menjadi anak kesukaan yang menyukakan hati Bapa.

Kita harus mempersoalkan apakah kita sudah menjadi anak-anak Tuhan yang diinginkan oleh Bapa? Kalau orang tidak belajar sungguh-sungguh menjadi manusia yang diinginkan oleh Allah, makin hari makin tua, mata hatinya makin tertutup, ia makin tidak akan mengerti bagaimana menjadi manusia yang diinginkan oleh Allah Bapa itu. Lebih konyol lagi kalau dikesankan oleh pihak gereja bahwa seakan-akan semua yang ke gereja itu sudah sah menjadi anak-anak Tuhan, dan mereka sudah puas dengan hidup keberagamaan yang mereka miliki. Mereka tidak memiliki kehausan yang serius akan kebenaran Tuhan.

Biasanya orang-orang seperti ini penekanannya hanya ikut kebaktian, ikut liturgi, bagaimana mengalami mukjizat, mengalami kuasa Allah, bagaimana membangun Firdaus di bumi. Tentu fokus mereka bergeser dari perjuangan yang harusnya dimiliki yakni perjuangan untuk menjadi anak-anak Allah, menjadi perjuangan untuk mencipatakan kenyamanan hidup di bumi. Sedangkan soal keselamatan yang adalah usaha Tuhan mengembalikan manusia ke dalam rancangan semula Allah, tidak akan mereka persoalkan dengan serius. Padahal, menjadi anak-anak Allah adalah sebuah keberadaan yang harus diperjuangkan, bukan sekadar status yang diyakini telah dimiliki karena telah menjadi orang Kristen. Tidak semua benda kuning itu emas. Satu benda warna kuning diakui emas kalau berkeadaan bernilai, bereksistensi emas. Demikian juga bukan orang yang memanggil Dia, “Tuhan, Tuhan,” yang masuk Kerajaan Surga, tetapi orang yang melakukan kehendak Bapa.

Jangan anggap remeh kebenaran ini. Kebesaran yang kita miliki hari ini, akan sirna dalam sekejap. Jangan sombong, sebab kita pasti mati. Gereja harus berbicara selantang-lantangnya akan hal ini. Suka tidak suka, kita harus selalu mengoreksi diri, jangan terlalu percaya diri kalau kita pasti diakui sebagai anak-anak Allah, belum tentu. Sebab nilai prestasi akhir hidup kitalah yang akan menentukan apakah kita diakui sebagai anak-anak Allah oleh Bapa di surga. Kalau Tuhan mengatakan, “Barangsiapa setia sampai akhir; menang sampai akhir,” apa indikasi di situ? Dan Paulus pun berkata, “Aku berusaha untuk berkenan kepada Allah, aku menguasai diriku supaya aku yang sudah membawa orang lain, aku yang sudah memberitakan Injil, jangan sampai aku sendiri ditolak.” Itu berarti, ada kemungkinan kita ditolak, tidak diakui sebagai anak-anak Allah.

Itulah sebabnya dikatakan, “Orang-orang yang menerima-Nya diberi kuasa, supaya…” Bukan ‘orang Kristen,’ namun ‘orang yang menerima-Nya.’ Sebab tidak semua orang yang beragama Kristen adalah anak-anak Allah. Benar, Allah memberikan fasilitas keselamatan. Namun kalau fasilitas keselamatan ini tidak digunakan, tidak dimanfaatkan, orang tidak akan mengalami proses keselamatan yang benar. Sebagai anak-anak Allah, kita harus memahami bahwa keselamatan yang diperjuangkan oleh Tuhan Yesus adalah fasilitas supaya kita menjadi anak-anak Allah. Bukan sesuatu yang otomatis menempatkan orang Kristen menjadi anak-anak Allah.

Kalau fasilitas ini tidak digunakan secara maksimal, maka keselamatan tidak terjadi. Ada orang muda kaya dalam Matius 19 yang datang kepada Tuhan Yesus dengan antusias, dia sujud dan berkata, “Apa yang harus kulakukan supaya aku beroleh hidup yang kekal?” Tuhan memberikan kepadanya harga yang harus dibayar: “Jual segala milikmu, bagikan kepada orang miskin, datang kemari, ikutlah Aku.” Dalam hal ini kita harus melihat maknanya, yaitu jangan memiliki ikatan. Orang muda kaya itu tidak pernah mengalami hidup kekal tanpa kesediaan melakukan apa yang diinginkan oleh Tuhan. Dan Alkitab mengatakan bahwa dia pergi dengan sedih sebab banyak hartanya. Hatinya terpasung pada materi dan dia tidak berani melepaskannya.

Berbeda dengan Zakheus di Lukas 19. Tuhan tidak akan mengatakan “telah terjadi keselamatan atas rumah ini” sebelum Zakheus punya komitmen untuk meninggalkan cara hidupnya yang lama. Tolong perhatikan, ini bukan soal uang, melainkan soal bagaimana Zakheus rela untuk melepaskan keterikatan dirinya dan memberi diri untuk Tuhan Yesus. Setelah Zakheus berbuat begitu, apa langsung dia tidak pernah berbuat salah lagi? Belum tentu. Dia pasti masih berjuang, karena materialistis yang telah menguasai dirinya tidak mungkin dalam sekejap dia bisa buang. Tetapi dengan komitmen, Zakheus telah mengambil satu langkah, yaitu mengikut Tuhan Yesus. Maka Tuhan mengatakan, “Telah terjadi keselamatan atas rumah ini, karena orang ini anak Abraham.”