Ketika suatu hari kita berhadapan dengan Tuhan, dan ternyata tidak ada yang kita bawa apa pun dan siapa pun, betapa celakanya kita! Benar kata pemazmur dalam Mazmur 73:25-26, “ Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi. Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya.” Kita amini ayat itu, kita jadikan syair pujian, dan kita berusaha untuk mengenakannya. Kita percaya bahwa Allah adalah Allah yang hidup, yang berperasaan, dan kita tidak boleh semena-mena terhadap Dia. Betapa mengerikan kalau kita munafik dan tidak pernah bertobat!
Sampai suatu hari, kita tidak bisa membedakan kapan kita tulus dan kapan kita munafik. Kita menganggap sepi perasaan Tuhan, dan itu mengerikan. Mari kita berubah. Mari kita bertobat. Kita boleh saja tidak menghargai sesama, walau itu pun tidak boleh, tapi jangan kita bermain-main dengan Allah yang hidup, Allah yang memperkarakan hidup kita, karena kita memanggil Dia Bapa. Allah yang reaktif dan responsif terhadap tindakan kita, karena kita adalah anak-anak-Nya. Tindakan kita pasti mempengaruhi perasaan Allah.
Dalam kitab Kejadian 6, ada satu ayat yang memilukan, yaitu ketika Allah menjumpai makhluk yang diciptakan-Nya namun perbuatannya jahat semata-mata; “Kejahatan manusia besar di bumi, dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata, maka menyesallah TUHAN bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi. Hal itu memilukan hati-Nya.” Bukan tidak mungkin, kita juga bisa memilukan hati Allah. Seperti tatkala Yesus menangisi Yerusalem, Yesus berkata, “Wahai, betapa baiknya jika engkau tahu apa yang perlu untuk damai sejahtera! Tapi hari ini tersembunyi di matamu.” Yesus mengucapkan kalimat itu pada tahun 30 Masehi, 40 tahun sebelum Yerusalem dihancurkan oleh Jenderal Titus.
Dan hari ini, kalau kita datang ke Yerusalem, puing-puing dari kehancuran itu merupakan saksi bisu dari kenyataan yang Tuhan Yesus pernah kemukakan, bahwa Yerusalem dihancurkan. Sejarawan Yahudi mencatat, mayat-mayat bergelimpangan di jalan-jalan saat itu. Bangsa Yahudi tercerai-berai ke seluruh dunia. Tapi ada saatnya Tuhan mengembalikan mereka, sesuai dengan janji dalam firman-Nya bahwa Allah akan mengumpulkan umat pilihan dari segala penjuru dunia. Akhir abad 19, mulai muncul orang-orang Yahudi yang namanya mulai terkenal. Ada pemain bola, penari balet, ilmuwan, bankir. Karena Tuhan mau memulihkan bangsa itu, mereka mulai menonjol dalam bidang ekonomi di negara-negara tempat mereka menetap, khususnya di Eropa, yang akhirnya menimbulkan kebencian orang Jerman terhadap orang Yahudi dan antisemitisme yang begitu membara.
Lalu bangkitlah Hitler, terkenal dengan peristiwa Holocaust, di mana 6 juta orang Yahudi dibantai. Pembantaian itu merupakan satu peringatan bagi mereka yang sudah nyaman di negara-negara Barat dan sudah tidak ingin pulang ke negerinya. Tuhan memanggil mereka untuk kembali ke negerinya. Mereka teraniaya selama 7 tahun, dari tahun 1939 sampai 1945. Lalu, 3,5 tahun kemudian, ketika Perang Dunia II usai, pada tanggal 14 Mei 1948, berdirilah negara Israel modern. Dan itu merupakan peringatan bahwa dunia akan berakhir. Pernahkah ada satu bangsa yang meninggalkan kampung halamannya selama lebih dari 2.500 tahun bisa kembali lalu mendirikan negara untuk kedua kalinya? Sejak tahun 586 sM, ketika Yehuda dihancurkan oleh Nebukadnezar, mereka tidak pernah punya negara.
Pernahkah ada satu wilayah yang kosong selama 2.500 tahun, tidak pernah ada kerajaan berdiri di situ? Itu Palestina. Orang-orang Palestina pun tidak pernah punya negara. Hari ini, yang ada hanya kerajaan Daud dan kemudian negara Israel modern. Dan itu memberikan kepada kita pesan bahwa ada Allah yang hidup, sementara bangsa-bangsa kuno di Kanaan lenyap—walaupun mereka ada di negeri itu, mereka lenyap musnah—tapi justru bangsa Israel yang ada di luar tanah airnya, bisa kembali. Membicarakan hal ini, tidak ada unsur politisnya, tapi kita hanya melihat bagaimana kemuliaan Allah dinyatakan supaya semua orang tahu bahwa ada Allah yang hidup.
Di dalam Alkitab, berulang-ulang dikatakan, “Aku akan mengembalikan umat-Ku dari segala penjuru dunia.” Dan hari ini, kalau kita di sana, kita akan melihat orang-orang Yahudi. Tidak semuanya kulitnya putih; ada yang hitam, ada yang matanya sipit karena ada Yahudi dari Cina dan Yahudi dari Afrika. Mereka berdarah Yahudi, mungkin ada darah campuran, tetapi masih memiliki orang tua Yahudi. Allah itu hidup. Allah itu berperasaan. Setiap kali kita berkumpul di dalam nama Yesus, Allah hadir di tengah-tengah kita. Kita mestinya gemetar. Hidup kita harus berjalan dengan Tuhan setiap hari, supaya apa yang kita lakukan sesuai dengan apa yang Tuhan Yesus kehendaki.