Bagi orang pada umumnya, dunia adalah keindahan, sahabat, jawaban bagi kebutuhan jiwa mereka dan pelabuhan atau perhentian jiwa. Inilah irama dan naluri hidup manusia pada umumnya. Namun bagi orang percaya bisa sebaliknya. Ini yang disebut sebagai logika terbalik. Orang percaya bisa dianggap paranoid karena tidak sepaham dengan anak-anak dunia. Orang percaya yang benar yaitu mereka yang sungguh-sungguh mengenal kebenaran, akan mulai memandang kejahatan dunia itu luar biasa. Bahkan kemudian, dia menemukan adanya pengajaran-pengajaran di dalam banyak gereja yang bertentangan dengan apa yang Tuhan Yesus ajarkan. Hal ini akan sangat menggelisahkan hatinya. Nampak sekali bagaimana ia merasa terancam oleh keadaan ini, dan melihat ancaman bagi banyak orang. Tentu saja, ia bisa dipandang sebagai paranoid.
Seperti Martin Luther yang dianggap sebagai paranoid ketika ia menunjukkan kegelisahannya terhadap ajaran gereja pada waktu itu. Dia menyiksa diri, dia berjalan naik dengan lututnya. Karena dia berharap, lewat penderitaan itu dia berkenan kepada Tuhan, tetapi dia jujur mengakui bahwa dia tidak punya ketenangan. Sampai rahib dan uskup berkata, “Kamu aneh. Mestinya kamu sudah merasa sejahtera. Mestinya kamu sudah merasa tenang.” Sebab kesungguhan Martin Luther melebihi rahib-rahib pada umumnya. Namun, Martin Luther dengan kejujuran dan kepolosannya, menyadari bahwa ia belum ada di tempat yang benar di mata Tuhan. Sebagai biarawan muda, ia menunjukkan kegalauannya dengan mengadakan perlawanan kepada ajaran konservatif gereja yang sudah mengakar dalam gereja. Sebagai akibatnya, ia dianggap penyesat, pemberontak, pembelot gereja. Nyawanya pun sempat terancam, sehingga dia harus pergi dari satu tempat ke tempat lain untuk menyelamatkan dirinya. Akan tetapi demi kebenaran yang diyakininya, Martin Luther tetap pada pendiriannya, sehingga akhirnya bergulirlah protes yang melahirkan banyak gereja Protestan hari ini.
Hal ini sama dengan orang percaya yang memahami kebenaran yang murni dari Tuhan Yesus. Dia bukan hanya galau oleh kejahatan dunia, melainkan juga galau oleh pengajaran gereja yang tidak murni. Ia merasa galau terhadap gereja yang menyimpang, sehingga merasa terancam oleh penyesatan itu. Dia lihat ancaman yang begitu hebat dalam hidup banyak orang, dan orang-orang seperti ini akan menggeliat, dan geliatnya akan dibaca orang sehingga dia dianggap paranoid. Orang yang berani memberitakan kebenaran sehingga menentang pengajaran-pengajaran yang bertentangan dengan Injil, akan dianggap paranoid. Mereka dianggap keluar dari pola konservatif atau pola yang sudah ada. Dan biasanya kelompok ini tidak akan banyak. Sebab, orang yang mencintai dunia, yang kompromi dengan dunia, jauh lebih besar jumlahnya.
Berdasarkan penelitian dan observasi yang diakui sebagai fakta empiris, didapati bahwa penderita paranoid memiliki keyakinan palsu, dimana dia merasa ada ancaman, tetapi juga keyakinan palsu, dimana dia merasa memiliki satu kelebihan atau menjadi “orang penting.” Hal ini akan terekspresi secara permanen dalam berbagai tindakan yang mereka lakukan. Diagnosis atas orang yang berkejiwaan seperti ini final kalau perilaku tersebut sudah permanen. Mereka dianggap menderita sakit jiwa karena merasa ada satu kelebihan dalam dirinya atau menjadi orang penting. Orang percaya pun bisa dipandang oleh orang di sekitarnya demikian. Sebab orang percaya merasa diri sebagai anak-anak Allah, akan dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus, anggota keluarga Kerajaan Allah, bangsawan-bangsawan surgawi. Dan keyakinan ini akan membawa dampak yang sangat nyata, dan seluruh filosofi hidup dan perilakunya pasti berbeda dengan orang di sekitarnya. Dengan keyakinan yang sangat kuat, yang terekspresi dalam seluruh tindakan dan perilakunya, orang percaya yang normal ini dianggap sebagai tidak normal atau paranoid.
Memang banyak orang Kristen memiliki keyakinan bahwa dirinya adalah anak-anak Allah, percaya akan dimuliakan bersama dengan Kristus, dan seterusnya, tetapi itu hanya keyakinan dalam pikiran atau semacam pengaminan akali, bukan sesuatu yang sungguh-sungguh mencengkeram hidupnya. Jadi, jangan heran kalau ‘percayanya’ itu belum merubah kelakuannya secara permanen. Dia hanya mengucapkan dalam kata-kata atau lantunan pujian. Namun sebenarnya mereka belum sungguh-sungguh masuk wilayah apa yang dipercayainya itu. Kalimat “rinduku, hausku akan Diri-Mu. Bilakah ku diam di sana selamanya,” itu hanya di mulut saja. Ikut menyanyikan lagu “Oh, Yerusalem kota mulia, hatiku rindu ke sana,” akan tetapi tingkah lakunya tidak menunjukkan kalau dia merindukan Yerusalem. Tidak menunjukkan dia sungguh-sungguh bangsawan surgawi. Kalau soal duit masih ribut, soal kedudukan masih berantem, itu berarti mereka belum menghayati realitasnya sebagai bangsawan surgawi yang nilainya lebih dari nilai jabatan seorang presiden di dunia.
Pertanyaannya, seberapa kita menghayati itu? Apakah kita sudah sungguh-sungguh masuk wilayah itu? Kalau seorang mengaku sebagai anak-anak Allah, ia harus seperti Bapanya. Dia harus serius berusaha memiliki karakter seperti Bapa, walaupun dalam usahanya itu dia masih jatuh bangun. Namun usahanya maksimal. Sebagai orang percaya, setiap kita pasti punya usaha dan juga mengaku, “Saya belum sempurna. Saya juga jatuh bangun,” padahal masalahnya adalah karena kita tidak maksimal sehingga kita tidak menghayati keadaan kita sebagai anak-anak Bapa di surga. Bagaimana seseorang bisa menghayati diri sebagai anak-anak Allah kalau tidak berusaha dengan sekuat tenaga menjadi seperti Bapa? Mental orang Kristen seperti ini, bukanlah mental anak-anak Allah. Pasti mereka masih mencintai dunia. Dunia baginya adalah pelabuhan. Dia masih menikmati dunia. Padahal belum tentu dia juga kaya secara finansial. Kaya pun belum tentu dia bisa menikmati. Tanpa disadari, sebenarnya orang-orang seperti ini menganggap surga itu tempat pembuangan. Kalau sudah mati, mau tidak mau harus ke sana. Namun tidak ada kerinduan.