Satu hal yang harus kita pahami adalah bahwa Tuhan sendiri terikat oleh tatanan-Nya. Ia tidak akan melanggar prinsip-prinsip yang ditetapkan-Nya. Salah satu tatanan itu adalah bahwa Allah tidak memaksakan kehendak-Nya atas manusia di luar kesadaran dan kebebasan manusia itu sendiri. Hal ini nyata terlihat dalam peristiwa penganiayaan yang terjadi atas gereja mula-mula. Jemaat perdana tidak akan dapat berjalan bersama Tuhan jika mereka tetap berada dalam keadaan yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Sebagai gereja yang baru lahir, mereka sangat rentan terhadap pengaruh dunia di sekitar mereka, yang bisa mencemari kemurnian hidup kekristenan.
Yang pertama , memisahkan mereka dari hidup keberagamaan , yaitu agama Yahudi. Tuhan mengizinkan penganiayaan datang dari pihak para pemimpin agama Yahudi. Aniaya ini memisahkan orang-orang percaya dari sistem keberagamaan Yahudi. Tanpa penganiayaan itu, para rasul seperti Petrus dan Yohanes kemungkinan besar akan tetap hidup dalam sistem agama Yahudi, bahkan terus beribadah di Bait Allah. Padahal Allah menghendaki pemisahan total dari keberagamaan yang tidak lagi berkenan di hadapan-Nya.
Yang kedua , Allah mengizinkan penganiayaan dari pihak orang-orang Roma. Ini membuat orang-orang Kristen benar-benar terpisah dari dunia . Mereka tidak lagi memiliki kesempatan untuk menikmati dunia atau merasa aman secara sosial. Mereka hidup dalam penderitaan hebat, kehilangan harta, keluarga, bahkan nyawa. Mereka dijatuhi hukuman mati: digantung, disalib, dipancung, bahkan dilempar ke kandang binatang buas untuk dicabik-cabik. Dan Allah membiarkan semua itu terjadi. Bapa membiarkan.
Namun melalui jalan inilah jemaat dapat bertumbuh menjadi dewasa dan sungguh-sungguh berjalan dengan Allah. Bayangkan jika penganiayaan itu tidak terjadi. Mungkin hari ini kekristenan telah padam dan melebur kembali ke dalam agama Yahudi. Jika tidak ada penganiayaan dari Romawi, kekristenan bisa saja menjadi duniawi dan kehilangan kekudusannya. Maka sesungguhnya, itulah cara Allah membela dan menjaga kekristenan tetap murni. Di situlah digenapi pernyataan Tuhan Yesus: “Di atas batu karang ini, di atas pengakuan ini, Aku akan membangun jemaat-Ku.” Jemaat sejati dibangun di atas pengakuan bahwa Yesus adalah Tuhan. Dan pengakuan inilah yang membuat mereka dianiaya, karena orang Yahudi tidak bisa menerima Tuhan selain Yahweh. Mereka tidak bisa menerima bahwa Yesus adalah Anak Allah.
Pihak Romawi pun menolak sebutan “Kurios” bagi Yesus, karena gelar itu sebelumnya disandang oleh tokoh seperti Alexander Agung, yang merupakan musuh besar kekuasaan Romawi. Maka mereka tidak mau ada kekuatan serupa muncul kembali, dan mereka menindas orang Kristen yang mengaku Yesus sebagai Kurios — Tuan dan Majikan mereka. Pengakuan bahwa Yesus adalah Tuhan membawa konsekuensi besar dalam hidup para pengikut-Nya. Namun Allah memang harus membawa mereka ke jalan ini. Mustahil bagi Allah membiarkan umat-Nya berjalan bersama Dia jika hidup mereka masih bercampur dengan unsur-unsur keberagamaan semata, pengaruh asing, dan percintaan dunia.
Yang ketiga , penganiayaan membuat mereka berhenti berbuat dosa. Inilah yang memungkinkan mereka benar-benar berjalan dengan Allah. Alkitab berkata, “Barangsiapa menderita, ia berhenti berbuat dosa.” Penderitaan menjadi alat pemurnian. Bagaimana dengan kita hari ini? Seringkali kita justru kompromi. Kita ingin mengatur kekristenan kita dengan standar kita sendiri. Padahal, orang-orang yang sungguh-sungguh mau berjalan dengan Allah pasti akan dibawa Tuhan masuk ke jalan salib — jalan penderitaan dan penyangkalan diri.
Kiranya Tuhan membuka mata kita, agar kita memahami standar mengikut Yesus hari ini. Jangan ada unsur kafir, keberagamaan semu, atau percintaan dunia dalam hidup kita. Sampai akhirnya, kita mampu mempersembahkan seluruh hidup kita tanpa batas kepada Tuhan.