Ketika kita belum mencapai tingkat kedewasaan rohani seperti hari ini, Tuhan dan Kerajaan-Nya belum sepenuhnya menjadi pusat hidup kita. Pikiran kita baru akan tertuju kepada Tuhan dan Kerajaan-Nya apabila kita memiliki visi yang jelas. Sebab tanpa tujuan, tanpa visi, dan tanpa target yang terarah, kita bisa hidup dalam kemunafikan. Bersyukur, pada hari-hari ini kita telah mencanangkan, memproklamasikan, dan mendeklarasikan gerakan hidup suci ( holiness movement ), dan berharap gerakan ini menjadi bagian dari gerakan akhir zaman ( end time movement ). Tidak boleh ada satu pun wilayah kehidupan yang menjadi blank spot . Hubungan kita dengan Tuhan harus senantiasa terhubung, tanpa putus, setiap saat.

Sekecil apa pun bisikan hati kita, Tuhan mendengarnya. Jika kita membiasakan diri berdialog dengan Tuhan, maka kita akan belajar mendengar suara-Nya. Kita pasti bisa mendengarnya — asal kita bersabar. Jika kepekaan kita belum terbentuk, maka harus dilatih secara konsisten. Tentu saja, kesucian hidup adalah syarat mutlak, sebab tanpa kesucian, tidak seorang pun dapat melihat Allah. Sebagaimana tertulis: “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.” Melihat di sini bukan dengan mata jasmani, melainkan dengan mata hati — dalam bahasa Yunani: horaō , bukan blepō ataupun theōreō .

Jika orientasi hidup kita adalah pemenuhan kebutuhan jasmani, maka tidak diperlukan komitmen total. Bahkan tanpa Tuhan pun, kebutuhan jasmani dapat terpenuhi. Maka prinsip: “Tuhan dan Kerajaan-Mu adalah segenap hidupku,” menjadi tidak relevan. Namun jika visi hidup kita adalah kesucian, hidup yang tak bercacat dan tak bercela, dan berfokus pada Kerajaan Surga, maka tidak boleh ada ruang bagi hal-hal lain. Visi ini menuntut totalitas, tidak bisa dijalani setengah-setengah. Dan untuk mencapainya, dibutuhkan pengorbanan seluruh aspek hidup kita.

Karena itu, kita harus mengubah dinamika hidup kita. Tidak boleh ada ruang untuk film, hiburan, atau media sosial yang tidak berguna — hal-hal yang justru mendistraksi pikiran kita dari fokus ilahi. Di titik ini, kita diperhadapkan pada pilihan: serius atau tidak dalam mengikut Tuhan. Sebab, jika kita sungguh-sungguh ingin mengikut Tuhan, maka pilihannya adalah memberikan seluruh hidup kita — atau tidak sama sekali. Porsi bagi Tuhan adalah 100%. Dalam Matius 6:24 tertulis: “Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan.” Jika kita tidak serius dalam berurusan dengan Tuhan, maka kita tidak akan pernah benar-benar memiliki Tuhan, dan juga tidak dapat dimiliki oleh Tuhan. Jangan menganggap Tuhan itu murahan.

Seluruh hidup kita harus diserahkan kepada-Nya, karena memang kita adalah milik Tuhan. Tentu saja, proses untuk mempersembahkan hidup secara penuh membutuhkan waktu. Namun apabila kita serius, kita akan sampai pada titik tersebut. Bagi seorang hamba Tuhan — termasuk pendeta — hidup kita harus menjadi korban bakaran. Kita harus rela “dicacah”, “dipotong-potong”, dan diletakkan di atas mezbah, agar hidup kita menjadi berkat bagi jemaat. Demikian pula, para orang tua harus menjadi persembahan hidup bagi anak-anak dan keluarganya. Hidup yang dipersembahkan sepenuhnya kepada Tuhan.

Tuhan mampu menilai seberapa serius seseorang dalam menjalin hubungan dengan-Nya. Sekadar pergi ke gereja belum tentu menandakan keseriusan. Bahkan seorang pendeta full-time — yang hidupnya diorientasikan untuk pelayanan — belum tentu menyerahkan segenap hidupnya untuk Tuhan. Dahulu, dalam pandangan yang sempit dan naif, kita berpikir bahwa seorang full-timer pasti memiliki dinamika ilahi. Padahal, dinamika ilahi bukan ditentukan oleh aktivitas lahiriah, tetapi oleh kualitas ikatan kita dengan Tuhan.

Setan menipu banyak orang dengan menyebarkan anggapan bahwa mereka yang memiliki dinamika ilahi adalah para pelayan Tuhan — terutama pelayan penuh waktu — mereka yang sekolah Alkitab, memiliki banyak pengetahuan teologi. Sedangkan yang lain dianggap bukan. Ini adalah penyesatan. Profesi sebagai pendeta tidak menjamin memiliki dinamika ilahi.

Jika demikian halnya, maka akhirnya kita akan kehilangan visi tentang bagaimana menjadi pribadi yang berkenan kepada Tuhan, bagaimana menjadi anak kesukaan Allah. Jika motivasi pelayanan kita keliru, dan hubungan kita dengan Tuhan tidak benar, maka itu lebih jahat daripada pedagang yang berbuat curang. Oleh karena itu, apa pun profesi kita — ibu rumah tangga, pedagang, praktisi hukum, tenaga medis, atau lainnya — dalam seluruh kegiatan hidup kita, kita harus menghadirkan Tuhan.