Tuhan itu riil dan semestinya bisa kita nikmati. Sebagaimana seorang pria yang sedang jatuh cinta, parfum yang dikenakan kekasihnya bisa merasuk ke dalam jiwanya, dan ada unsur di dalam batinnya yang mengatakan, “aku bisa dibahagiakan oleh wanita ini.” Lalu kenapa kita tidak bisa berkata, “Aku bisa dibahagiakan oleh Pribadi Tuhan.” Jadi, kalau Tuhan Yesus berkata di Yohanes 14:27, “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu; damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” Pertanyaannya, damai sejahtera yang seperti apa ini? Jangan hanya jadi fantasi. Tuhan Yesus tidak mungkin berbohong.

Kita harus mengalami damai sejahtera-Nya. Kenapa kita harus memiliki damai sejahtera Allah? Untuk mengetahui kehendak Allah secara presisi. Mengapa harus tahu kehendak Allah secara presisi? Supaya kita tahu bahwa jalan yang kita lalui itu menuju kehidupan atau kebinasaan, itu maksudnya. Ingat! Setan itu cerdik, licik. Tapi setan tidak bisa memalsu damai sejahtera Allah. Setan tidak mempunyai perangkat untuk membahagiakan orang, kecuali damai palsu, yaitu berupa materi, kekayaan, kehormatan, kedudukan. Jadi adalah sangat disayangkan kalau kita tidak menghargai anugerah di mana kita bisa bersentuhan dengan Allah semesta alam, sumber damai sejahtera, sebab di luar Dia tidak ada kehidupan.

Kalau kita bisa sampai pada tingkat “hanya Dia yang membahagiakanku,” pasti kita tidak cukup berdoa 10 menit, bahkan tidak cukup 30 menit, karena di situlah kita menemukan kehidupan dan kebahagiaan. Kita tidak bisa tidak ke gereja, tidak bisa tidak ikut berdoa, kita harus ketemu Tuhan. Namun banyak di antara kita yang sudah diracuni oleh kuasa gelap. Memang kita tidak kesetanan, tidak menjadi orang rusak atau bejat, akan tetapi cita rasa rohani kita rusak. Kita tidak mampu untuk menikmati Tuhan. Untuk itu, kita perlu detoksifikasi dengan doa dan belajar firman, agar kita diubah terus. Begitu cerdasnya kuasa kegelapan ini, sampai orang yang rajin ke gereja pun, sebenarnya masih bisa di jalan dunia. Sebab naluri manusia beragama itu dimiliki oleh setiap orang. Karena itu, orang beragama belum tentu bertuhan.

Apalagi kalau kita terlahir sebagai orang Kristen, tentu kita pergi ke gereja, dan ada dorongan atau naluri beragama. Namun itu semua belum tentu membuat kita melalui jalan lain, tidak jaminan. Karena setan itu menipu. Tanpa seseorang sadari, dia menjadi hamba Tuhan hanya sebagai profesi. Profesi itu dilakukan untuk bagaimana anaknya bisa sekolah setinggi-tingginya, dia mempunyai kebanggaan anaknya kuliah di mana, dan lalu menikmati hidup dengan beberapa hobi. Senang dibawa orang makan di restoran mahal. Bukan dilarang atau tidak boleh, tetapi jangan menikmati itu sebagai kebahagiaan. Jadi bukan tidak boleh bahagia, namun kalau kita memandang itu kebahagiaan melampaui Tuhan, itu berbahaya.

Kita harus habis-habisan untuk Tuhan—tidak ada kompromi dengan dunia—hidup sesuci-sucinya dan mematikan semua keinginan. Kalau tidak, pasti kita tidak memiliki dimensi kekekalan yang kuat, walaupun kita tetap merasa sebagai orang Kristen—atau hamba Tuhan—yang baik. Perhatikan, setan itu memalsu begitu rupa. Kita harus seekstrem-ekstremnya bagi Tuhan, tidak ada kompromi untuk hal lain di luar Dia, dan itu adalah suatu kehormatan. Tidak ada kehormatan lebih besar dari kehormatan seorang anak Allah yang berkeadaan sebagai anak-anak Allah. Bukan hanya berstatus anak-anak Allah, melainkan benar-benar berkeadaan sebagai anak-anak Allah. Mari kita rubah cara berpikir kita, atau paradigma kita harus kita rubah. Jangan berhenti berjuang sampai kita bisa tiba di jalan lain itu; jalan yang Tuhan tunjukkan bagi kita.