Ketika perahu para murid dilanda badai, seharusnya mereka tidak membangunkan Yesus dengan sikap seperti itu; “Tuhan, tidak pedulikah kalau kita binasa?” Hal itu menunjukkan sikap tidak memercayai Pribadi Tuhan. Seharusnya dalam keadaan apa pun, kita tetap memercayai Pribadi-Nya. Bahkan seperti pemazmur yang mengatakan, “Kalaupun ku jatuh hancur, aku jatuh di genggam-Mu.” Apa pun yang terjadi, Tuhan tidak akan mencelakai kita. Kalaupun kita ada di ujung jurang, nyaris jatuh, ada tangan yang pasti menopang kita. Selalu ada jalan keluar, walaupun itu di menit terakhir. Yang penting kita memiliki arah benar; langit baru bumi baru.

Apa pun masalah yang kita hadapi, semua dalam kontrol dan kendali Tuhan. Kecuali arah kita berbeda. Dan kalau semua dalam kontrol dan kendali Tuhan, percayalah, semua akan baik-baik menurut pemandangan Tuhan. Yang itu harus dimaknai sebagai cara Tuhan mengubah karakter dan watak kita. Jadi dalam membangun hubungan yang benar dengan Dia, kita harus memercayai pribadi-Nya tanpa curiga sama sekali, apa pun keadaan kita. Memang, bicara seperti ini begitu mudah, tapi sejujurnya ada saat-saat tertentu kita bingung; “kenapa Engkau buat keadaan ini?” Kita tidak marah dalam bentuk kata-kata, namun sejujurnya ada semacam sekam di dalam hati kita.

Jadi memang tidak mudah memercayai Allah dan menyandarkan kepala kita di pundak-Nya dan berkata, “aku percaya pada-Mu.” Allah itu hidup. Dia baik, Dia tidak pernah bermaksud mencelakai kita, walaupun keadaan kita krisis dan kritis. Dan akhirnya, kita dibawa Tuhan kepada pemahaman satu hal, bahwa Dia lebih dari cukup. Yang penting Dia ada di perahu hidup kita, dan kita sedang menuju pantai yang Tuhan mau kita mengarahkan diri. Maka, sekalipun kita tenggelam, kita tenggelam bersama Tuhan. Dan kita tahu bahwa tidak ada badai sebesar apa pun yang bisa menenggelamkan Tuhan. Itu berarti tidak ada badai sebesar apa pun yang bisa menenggelamkan kita. Yang penting arah kita menuju Langit Baru Bumi Baru, apa pun keadaan kita.

Sandarkan kepala kita di bahu-Nya dan berbisik dengan yakin, “aku memercayai-Mu, Tuhan.” Mungkin ada orang tua-orang tua yang tidak mempunyai siapa-siapa, anak-anak tidak peduli, siapapun tidak ada yang peduli, engkau bingung menatap hari esok. Ingatlah, ada satu Pribadi yang peduli, karena itu jangan khawatir. Allah memiliki 1001 lebih jalan, Tuhan lebih dari cukup. Kita akan melihat akhir dari semua peristiwa hidup kita adalah untuk kemuliaan Tuhan. Yang penting kita harus mempunyai arah langit baru bumi baru, jangan ke arah lain dan kita terus berkemas-kemas menuju Rumah Bapa. Tuhan akan menopang kita.

Kita terus mencari Tuhan, sampai orang di sekitar kita melihat ekstremnya kita mencari Tuhan dan berharap hanya pada pertolongan Tuhan. Mungkin keluarga besar kita melihat keadaan semakin memburuk, jangan goyah, Elohim Yahweh tidak mungkin mempermalukan kita. Sebagaimana Alkitab berkata dalam Mazmur 42, “air mataku menjadi makananku siang dan malam, karena sepanjang hari orang berkata kepadaku: di mana Allahmu?” Ayat ini menunjukkan bahwa memang ada pergumulan untuk membuktikan Allah itu hidup. Dan kita akan melihat kemuliaan Tuhan. Tapi ingat, arah kita harus jelas.

Ketika kita sampai pada level bahwa Tuhan lebih dari cukup, percayalah, kita lihat akhirnya: kemuliaan-Nya, maka jangan lihat prosesnya hari ini. Tuhan mengizinkan kita mengalami kerumitan-kerumitan. Jangan kita juga berpangku tangan. Seperti benang kusut, yang bisa kita urai, kita urai. Yang tidak bisa kita urai, itu bagian Tuhan. Memercayai pribadi Tuhan tanpa meragukan-Nya. Dan setelah itu kita terus mencari Tuhan, menyembah Tuhan. Dengan sikap demikian, kita menjadi tenang. Dan ketenangan kita menunjukkan percaya kita kepada Tuhan. Sehingga percaya kita membawa kita pada pemujaan, penghormatan kepada Dia. Kita bersyukur memiliki satu-satunya Allah yang benar, yang menciptakan langit dan bumi. Dan Dia tidak pernah meleset.